Saturday, January 12, 2019

5 Fenomena Tak Biasa Dan Tak Lazim Selama Pemilu 2019

5 Fenomena Tak Biasa Dan Tak Lazim Selama Pemilu 2019

Tags

Jokowi curang dalam pilpres 2019
Pemilu Teraneh Sepanjang Kemerdekaan RI

Indonesia merupakan negara Demokrasi yang berazazkan Pancasila. Semenjak Indonesia merdeka sudah banyak asam garam peristiwa yang bangsa ini lalui hingga detik ini. Pergantian dan tata kelola negara juga sudah beragam. Dimulai dari zaman orde lama, zaman orde baru, zaman revormasi hingga detik ini. 


Setidaknya Indonesia kini sudah memiliki Presiden yang ke Tujuh menuju Presiden ke delapan. Pemilihan Umum Pilpres di Indonesia berlangsung 5 tahun sekali. Saat ini di tahun 2019 pesta demokrasi itu sedang berlangsung. 

Fenomena Pemilu 2019 ini dirasa memang sangat berbeda daripada Pemilu sebelumnya. Kali ini masyarakat di suguhi tontonan yang tak biasa banyak hal-hal baru bermunculan bahkan tak masuk akal. Ini semua tentu karena banyak faktor yang mempengaruhi. Apa sajakah yang membuat Pemilihan Umum 2019 terlihat berbeda dari sebelumnya, mari kita ulas. 

1. Fenomena Sosial Media


Sudah bukan berita baru lagi keberadaan sosial media di Indonesia kian di gandrungi. Saat ini 2019 Indonesia menjadi salah satu negara aktif pengguna media sosial tertinggi di dunia. Rata-rata hampir separoh waktu masyarakat Indonesia di habiskan di jejaring media sosial. 

Beragam aktifitas dilakukan di sana mulai dari mencari hiburan, membaca berita bahkan bertransaksi ekonomi lewat media sosial. Hal inilah yang kemudian ikut mempengaruhi metode kampanye Pemilihan Umum di tahun 2019 ini. 

Para kontestan pemilu mempersiapkan Metode kampanye melalui media sosial yang menyajikan konten berupa Gambar dan Video. Dimana hal seperti ini pada Pemilihan Umum sebelumya tidak semasif yang kita rasakan saat ini. Bahkan di media sosial bisa kita bedakan antara pendukung si A dan si B karena mereka di beri label/julukan tak biasa pada masing-masing pendukung calon. Ini menjadi fenomena baru pada pemilu 2019. 

2. Orang Gila/Disability Mental Ikut Dalam Memberikan Hak Pilih. 


KPU Komisi Pemilihan Umum Indonesia tengah menjadi bulan-bulanan kritik netizen, menyusul munculnya Ke­bijakan yang membolehkan ODGJ memilih di Pemilu 2019. 

Pada dasarnya disabilitas mental tidaklah dapat melakukan tindakan (hubungan) hukum, sehingga tindakannya tidak dapat dimintai tanggung jawab (pertanggungjawaban). Hubungan hukum pada dasarnya adalah hubungan pertanggungjawaban. 

Dalam hukum yang berlaku di negara kita perlakuan terhadap disability mental dianggap sama dengan perlakuan terhadap anak di bawah umur, yaitu dianggap belum dewasa atau tidak cakap melakukan tindakan hukum. 

Jika kita berpedoman pada kelayakan dan kepatutan dimata hukum. Jadi secara rasional mana mungkin orang gila atau yang di sebut disability mental diizinkan menggunakan hak pilihnya dalam pemilu. Karena hal ini secara awam masyarakat jadi berpandangan. Orang gila didaftar sebagai pemilih, ini sebenarnya siapa yang bodoh ?. Fenomena Orang gila ikut memberikan hak pilih di Indonesia baru kali ini terjadi  di 2019 semenjak Republik ini berdiri, aneh bukan ?. 

3. Kehadiran Kotak Suara Kardus 


Seperti yang selama ini kita ketahui kotak suara pemilu terbuat dari logam seng. Sebelumnya pada pemilu 1955 kotak suara yang digunakan saat itu terbuat dari bahan dasar kayu. Namun belakangan ini di rubah menjadi berbahan dasar plat seng. Hal ini di lakukan karena alasan menjaga kelestarian alam dan alasan ini sangat masuk akal. 

Pada pemilu selanjutnya saat orde baru dan revormasi kotak suara pemilu terbuat dari bahan dasar plat seng. Dari segi keamanan berdasarkan UU Pemilu yang Jurdil dan Rahasia bahan ini sudah memenuhi standar dan sarat kelayakan untuk itu. 

Namun apa yang terjadi saat ini Pemilu 2019 KPU menggunakan kotak pemilu berbahan duplex atau kardus. KPU beralasan Ide ini bermula dari penjelasan Pasal 341 ayat (1) huruf a UU 7/2017, yang mengamanatkan kotak suara harus transparan. Ya Tuhan, jika ini alasanya kenapa tidak pake akrilik saja ? Kenapa kardus yang di plastikin yang di pilih ? 

Jika kita melihat dari segi keamanan dan kerahasiaan kotak suara duplex kardus ini sangat-sangat tidak layak untuk di gunakan dalam pemilu yang begitu penting dan rahasia bagi suatu negara. Apalagi duplex kardus ini sangat mudah untuk rusak dan di sabotase mengingat kondisi geografis kita. 

Sebetulnya kotak suara kardus ini pernah di gunakan pada pemilu sebelumnya tapi, hanya untuk cadangan saja jika kotak plat seng ada yang rusak atau distribusinya ada yang kurang. Namun apa yang terjadi di pemilu 2019 kotak suara pemilu semuanya terbuat dari duplex kardus. Sangat-sangat mengecewakan dan tidak layak, ini menjadi fenomena pada pemilu 2019 ini. 

4. Fenomena Debat Pilpres 2019 Yang Kontroversi 


Baru-baru ini masyarakat di hebohkan dengan kabar baru mengenai Pilpres 2019. Fenomena baru dalam kontes Pemilu Pilpres dimana penyelenggara pemilu yaitu KPU membocorkan kisi-kisi pertanyaan dalam sesi debat Pilpres. 

Jika kita flas back kebelakan pada pilpres sebelumnya hal ini belum pernah terjadi. Tentu kabar ini sontak membuat masyarakat kaget dan bertanya-tanya. Menurut pandangan awam dari masyarakat, penyelenggaraan pemilu kali ini seolah-olah terlihat main-main. 

Masyarakat awam berpendapat pelajar di bangku sekolah saja tak pernah di berikan kisi-kisi soal menjelang ujian. Bagai mana mungkin mencari calon kepala negara diberikan kisi-kisi pertanyaan yang ingin di dengarkan rakyat spontan dari hasil pemikiran calon pemimpin yang hendak mereka pilih. Manamungkin rakyat yang cerdas mau memilih kucing dalam karung. 

Jika kita amati di luar negri seperti di Amerika yang juga menganut sistem demokrasi. Membocorkan kisi-kisi dalam debat Pemilu akan menjadi suatu Skandal Besar yang berakibat fatal. Di Indonesia penyelengara pemilu malah terang terangan membocorkan kisi-kisi debat pilpres. Fenomena ini baru terjadi di 2019 sepanjang sejarah Pilpres di Indonesia. 

5. Fenomena Lembaga Survey Berlomba-Lomba Dengan Margin Error 90% 


Survey adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan pertanyaan terstruktur yang sama pada setiap orang, kemudian semua jawaban yang diperoleh peneliti dicatat, diolah, dan dianalisis untuk menjaring data tentang berbagai hal. Di dalam pelaksanaan pemilu sering di lakukan survey untuk melihat, mengetahui, menganalisa, memprediksi sejauh mana peluang kemenangan dari para calon kontestan. 

Survey yang benar tentu dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah berdasarkan fakta dengan margin error yang rendah. Tapi untuk Pemilu 2017-2019 para lembaga survey terlihat tidak rasional dan tidak ilmiah dalam melakukan survey. Contohnya pada saat pilkada DKI Jakarta dan jawabarat 2017-2018 lalu para lembaga survey berlomba lomba melakukan survey dengan margin error diluar kepatutan. 

Fenomena ini membuat heran masyarakat terutama para politisi dan akademisi. Bagaimana mungkin suatu lembaga survey yang berlabel nasional melakukan survey yang tidak rasional dengan margin error lebih besar. Kejadian ini seolah mencoreng kredibilitas lembaga survey dimata masyarakat Indonesia. Sehingga saat ini lembaga survey semakin tidak dipercaya masyarakat dan ini adalah fenomena baru menjelang pemilu 2019. 

Secara garis besar itulah fenomena baru yang terjadi pada Pemilihan Umum di 2019 ini. Sebetulnya masih banyak lagi kejadian di luar dugaan mengenai Pemilu 2019 yang belum pernah terjadi pada pemilu sebelumnya. Tapi jika di urai akan tetap bermuara pada pembahasan kita di atas. 

Satulagi yang sangat kentara yaitu euforia keinginan rakyat Indonesia untuk #2019GantiPresiden seolah tak terbendung hingga kepelosok daerah menggema. Semakin ramai bagai jamur dimusim hujan, bagai bunga dimusim semi.

Kebijaksanaan tidak tumbuh dengan serta merta.

This Is The Newest Post
Buka Komentar

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
EmoticonEmoticon