Saturday, December 08, 2018

Memahami Tentang Perbedaan Elektabilitas Dan Kepopuleran

Memahami Tentang Perbedaan Elektabilitas Dan Kepopuleran

Tags

Pengaruh elektabilitas dalam pemilu
Elektabilitas

Sobat rancax pasti sering mendengar kata elektabilitas bukan ?. Apalagi menjelang pemilu berbagai media sibuk membahas elektabilitas para calon kandidat yang akan berlaga dalam kontestasi pemilu. Calon ini elektabilitasnya naik, calon yang itu elektabilitasnya turun pasti itu yang selalu dibahas.


Mungkin bagi kita masyarakat awam, tentu tidak paham apa itu elektabilitas kenapa sering dibahas saat masa-masa pemilihan umum saja. Atau mungkin dalam pandangan awam kita malah mengartikan elektabilitas sama artinya dengan popularitas. Pendapat ini hampir mendekati, tetapi maknanya tidak sesederhana itu loh sobat rancax.

Mari kita uraikan apa itu elektabilitas dan sepenting apakah elektabilitas itu sebetulnya. Elektabilitas adalah tingkat keterpilihan yang disesuaikan dengan kriteria pilihan. Elektabilitas bisa diterapkan kepada barang, jasa maupun orang, badan atau partai.

Elektabilitas memang sering dibicarakan menjelang pemilihan umum. Jika orang membahas tentang Elektabilitas suatu partai politik misalnya berarti, maksudnya tingkat keterpilihan partai politik tersebut di publik. Elektabilitas suatu partai sedang tinggi berarti maksudnya partai tersebut memiliki daya pilih yang tinggi.

Untuk meningkatkan elektabilitas maka objek elektabilitas harus memenuhi kriteria keterpilihan dan juga kepopuleran. Objek yang dimaksut seperti yang sudah kita bahas diatas misalnya objek tersebut berupa barang, jasa maupun orang, badan atau partai.


Orang yang memiliki elektabilitas tinggi adalah orang yang dikenal baik secara meluas dalam masyarakat. Misalnya ada orang baik, yang memiliki kinerja tinggi dalam bidang yang ada hubungannya dengan jabatan publik yang ingin dicapai, tapi karena tidak ada yang memperkenalkan maka orang tersebut menjadi tidak elektabel. 

Sebaliknya, orang yang berprestasi tinggi dalam bidang yang tidak ada hubungannya dengan jabatan publik, boleh jadi mempunyai elektabilitas tinggi karena ada yang mempopulerkannya secara tepat. 

Dalam masyarakat, memang sering diartikan, orang yang populer dianggap mempunyai elektabilitas yang tinggi. Sebaliknya, seorang yang mempunyai elektabilitas tinggi adalah orang yang populer. Popularitas dan elektabilitas sebetulnya tidak selalu berjalan seiring. 

Adakalanya seseorang yang populer malah tidak di sukai publik dan peluang keterpilihanya (elektabilitasnya) malah rendah. Idealnya antara profesionalitas dan kepopuleran berjalan baik seimbang baru elektabilitas akan tinggi.

Contoh sederhananya misal seorang Artis mencalonkan diri jadi anggota dewan. Yang namanya artis sudah pasti populer bukan ?. Tapi, elektabilitasnya belum tentu tinggi, maksudnya tingkat keterpilihanya di mata publik untuk jadi anggota dewan belum tentu tinggi. 

Contoh di atas biasanya berlaku bagi pemilih yang cerdas karena pemilih yang cerdas mempertimbangkan banyak faktor tak sekedar popularitas dari calon yang akan dipilihnya saja. 

Namun jika pemilih yang tidak cerdas biasanya memilih berdasarkan popularitas calon saja, mereka tidak memperdulikan faktor lainya sehingga calon yang hanya modal kepopuleran berpeluang besar untuk dipilih oleh pemilih yang tidak cerdas.

Didalam kontestasi pemilu para kandidat calon berlomba-lomba menaikan elektabilitasnya tujuanya supaya peluang untuk terpilih menjadi lebih tinggi. Untuk itu saat pemilu diadakanlah kampanye. Kampanye positif yang dilakukan biasanya membawa visi misi dan program yang ditawarkan oleh masing-masing kandidat calon. 

Disaat berkampanye para kandidat calon memperkenalkan dirinya kembali, untuk menarik simpati serta dukungan publik. Jika metode kampanye yang dipakai tepat sasaran, serta visi misi yang ditawarkan menarik. Maka, elektabilitas calon tersebut akan naik dan tingkat keterpilihanya semakin tinggi. 


Kampanye memiliki tujuh variabel yang akan dilihat seberapa besar pengaruhnya terhadap elektabilitas. Sedangkan Elektabilitas juga memiliki tujuh variabel yang tiap-tiap variabel ini membuktikan seberapa besar elektabilitas akan diperoleh. 

Berikut Skema Sederhana Dari Elektabilitas Yang Baik


  1. Popularitas 

  2. Ketertarikan Publik 
karakter calon dimata publik 
  3. 
Pengaruh terhadap pilihan publik 

  4. Keterpilihan publik 
kelayakan dimata publik 

  5. Keyakinan masyarakat terhadap pasangan calon. 

Setelah ulasan singkat diatas sobat rancax sudah menjadi lebih tau bukan ?. Kita sebagai pemilih yang memiliki hak suara jadilah pemilih yang cerdas. Jangan terlena dengan calon kontestan pemilu yang hanya bermodal kepopuleran saja. Tapi kita sebagai pemilih yang cerdas pertimbangkan juga faktor lainnya sehingga dia layak untuk mendapat suara kita. 

Misalnya profesionalitas yang dimiliki calon kandidat tersebut. Visi misinya seperti apa dan program-program yang ditawarkannya harus menjanjikan. Ingat bukan janji sekedar janji ya ! Perhatikan keseriusanya dalam menawarkan janji manis. Jangan sampai setelah dipilih janji tinggal janji yang merana ya kita sebagai pemilih tentunya.

Kebijaksanaan tidak tumbuh dengan serta merta.

Buka Komentar

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
EmoticonEmoticon