Friday, December 07, 2018

Lahirnya Momentum 212 Menuntut Keadilan Membawa Persatuan Umat

Lahirnya Momentum 212 Menuntut Keadilan Membawa Persatuan Umat

Tags

Bangkitnya umat islam di indonesia
Reuni Akbar 212


Suasana reuni 212 memang banyak meninggalkan memori haru biru bagi masing-masing peserta. Bagaimana tidak acara yang kini menjadi agenda tahunan digelar setiap tanggal 2 Desember itu, dihadiri jutaan umat di Indonesia dari berbagai penjuru nusantara. 


Mereka datang beramai-ramai dengan biaya sendiri untuk menyuarakan keadilan saling menjaga silaturahmi dan persaudaraan sesama anak bangsa. 

Cikal Bakal Lahirnya Momentum 212






Aksi 212 lahir sejak 2016 lalu, yang diawali tindakan penistaan terhadap kitab suci Al-Quran yang dilakukan Basuki cahaya purnama (Ahok) saat menjabat sebagai gubernur Jakarta 2016 silam.

Penyelesaian kasus penistaan tersebut saat itu, dirasakan umat islam indonesia tidak berkeadilan. Bahkan terkesan dilindungi penguasa. Hal inilah yang kemudian mematik protes besar dari umat muslim Indonesia untuk melakukan Aksi damai meminta ditegakannya keadilan terhadap kasus ini.


Aksi damai yang dilakukan di lapangan Monumen Nasional (Monas), sebetulnya sudah terjadi sebelumnya beberapa kali, namun jumlah masa masih sedikit sekitar ratusan ribu orang. Sayangnya aksi protes yang selalu dikomandoi Habib Riziq Sihab dan beberapa ulama lainya itu dianggap angin lalu oleh penguasa. 

Sehingga, puncaknya dilaksanakan kembali aksi ke 3 pada tanggal 2 Desember 2016 yang tercatat lebih kurang dihadiri 7 juta orang. Masa tumpah ruah berkumpul di lapangan Monas. Bahkan memadati badan jalan disekitar kawasan Monas Jakarta. 

Para peserta aksi masih membawa agenda yang sama menuntut keadilan ditegakan atas penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok, dan dihentikanya kasus-kasus sosial lain yang dianggap suatu kriminalisasi pada ulama dan aktifis. 

Umat islam yang berkumpul melakukan aksi damai dan beribadah bersama di lapangan Monas Jakarta. Moment inilah yang kemudian dikenal dengan aksi damai 212.

Simak Video Berikut Umat Beramai-ramai menuju Monas Jakarta menghadiri acara reuni 212.



Puncak dari aksi 212 pada tahun 2016 lalu berhasil menuntut Ahok untuk diadili atas penistaan Al-Quran yang telah dilakukanya. Sehingga Ahok yang saat itu masih menjabat sebagai gubernur Jakarta dan seorang petahana yang juga sudah kalah dalam pilgub Jakarta periode berikutnya. Diganjar hukuman 2 tahun penjara oleh pengadilan jakarta atas penistaan yang ia lakukan dan ditahan di mako brimob kelapa dua depok. 

Aksi Damai 212 Menjadi Event Tahunan 






Selesainya kasus penistaan yang dilakukan oleh Ahok ternyata tidak meredam kebencian sekelompok orang terhadap umat islam di indonesia. Banyaknya isu miring yang kian kecang dihembuskan bahkan, tudingan anti kebinekaan, anti pancasila, radikal, intoleran berembus kencang pada umat islam tanah air. 

Terakhir pada Hari Santri Nasional 2018 lalu Simbol Islam Bendera Tauhid dibakar sekelompok orang dan di viralkan dimedia sosial.

Fitnah dan Tudingan negatif dari sekelompok orang pada umat muslim semakin menjadi-jadi, fitnah inilah yang ingin di bantah oleh umat islam di Indonesia. 

Diadakanya agenda 212 yang kini menjadi agenda tahunan. Awalnya memang untuk menuntut keadilan, namun saat ini juga bertujuan untuk membuktikan bahwa umat islam Indonesia cinta damai, bersahaja, bersih, tertip, aman dan toleransi. Tidak seperti fitnah yang beredar yang selalu dihembuskan kelompok anti agama islam.

Terbukti setiap kali mengadakan aksi dengan masa berjumlah jutaan orang suasana lokasi tetap kondusif, aman, tertip, bersih, bersahaja, damai, toleransi bahkan tanaman dan rumputpun tidak ada yang rusak.

Aksi 212 ini banyak mendapatkan simpati dari berbagai kalangan. Agenda meminta keadilan yang awalnya disuarakan umat islam. Membawa suasana haru tersendiri bagi banyak orang. Bahkan, karna banyaknya jumlah masa 212 yang hadir tiap tahunya hingga event ini mendapat sorotan dari berbagai media luar negri. 

Bagaimana tidak para peserta yang hadir tiap tahunya semakin beragam. Mereka berasal dari berbagai daerah dengan bermacam suku, latar belakang budaya, bahkan dari lintas agama juga ikut hadir berbaur menyuarakan keadilan, perdamaian dan persatuan.

Kini Aksi Damai 212 yang diawali pada Desember 2016 lalu, telah menjelma menjadi momentum persatuan umat di indonesia, dengan nama reuni 212 yang kian disenangi rakyat Indonesia.

Sekilas Kisah Dari Peserta Reuni 212 






Banyak cerita menarik dan mengharu biru yang selalu dibawa oleh setiap peserta setelah selesai acara 212 (Saat ini lebih dikenal dengan reuni 212). Berikut ada sebuah tulisan dari seorang peserta reuni 212 Siem Mei Hwa yang berasal dari etnis tionghoa beragama non muslim. 

Tulisan "Siem Mei Hwa" 

Awalnya aku hanya ingin tahu dan ingin melihat saja. Tentang reuni 212 yang katanya di hadiri jutaan manusia. Pukul 6.00 aku berangkat dari Depok menuju Monas. Titik tempat berkumpulnya alumni 212.

Jam 7 kurang aku sudah sampai, Aku terkejut dan takjub, karena memasuki bunderan HI manusia sudah berjubel.
Mobilku pun berjalan merayap di antara jamaah yang rata-rata berbaju dan berpeci putih. Mereka begitu ramah mempersilahkan mobilku lewat.

Namun aku tak bisa meneruskan, karena sudah tidak bisa masuk lebih jauh lagi dan jalan sudah di padati manusia. Seorang jamaah dengan sopan bertanya padaku 

", mau kemana Bu..!?",
", Mau cari parkir pak", 

jawabku tersenyum.

", Ibu mutar ke kanan terus lurus lebih kurang 100 m dari sini ada tempat parkir di halaman gedung itu, masih bisa parkir ", 

katanya santun sekali. 

Setelah berjalan terseok akhirnya sampai juga aku di gedung yang di tunjukan bapak tadi.

Selesai memarkir aku dan keluargaku keluar dari halaman gedung. Aku terkejut bahkan terperangah. Karena jalan sudah penuh sesak dengan lautan manusia. Mereka kompak tanpa di komando membaca sholawat dan mengibarkan ratusan bendera tauhid berwarna warni.

Aku tahu bendera tauhid dari dunia sosmed. Aku dan keluargaku pesimis, apakah mereka menerima kami untuk ikut nimbrung. Ataukah sebaliknya mrk akan mengusir kami.

Dan aku pun berpikir bagaimana bila terjadi rusuh...!?.
Dalam situasi yang pesimistis dan kebimbangan.

Tiba-tiba beberapa jamaah menghampiri kami, dan memberikan topi yang bertulisan tauhid. Dan anggota keluarga ku pun di berikan beberapa slayer. Kami di persilahkan ikut bergabung.

Rasa euporia menghinggapi keluarga.
Kami rela berdesakan dengan orang lain yang tak saling mengenal tapi jiwanya ada rasa kebersamaan. Akupun tak dapat menahan tangis haru begitu juga anggota keluarga ku.

Jutaan rasa yang menghinggapi kami membuat aku terisak. Beberapa jamaah memberikan tisue kepadaku. Aku mengusap air mataku, belum pernah perasaan ini berkecamuk sebegitu dahsyatnya.

Rasa takjub dan bangga belum pernah aku lihat manusia sebanyak ini begitu tertib...!
Puji Tuhan...!!!
Ini sungguh luar biasa Apalagi saat mendengar lantunan sholawat yang begitu kompak. Tak henti hentinya aku mengusap air mata yang menggenangi mataku.

Setelah berjalan sekian puluh meter. Aku bertemu dengan rekan-rekan yang ku tahu mereka adalah non muslim. Rupanya mereka merasakan hal yang sama denganku. Dan aku semakin lebih takjub, karena banyak yang non muslim pun berdatangan.

Ikut membaur dengan para jutaan jamaah. Mereka pun tak membedakan kami, kami dapat snak dan minuman seperti jamaah yg lain. Mereka memandang kami sebagai saudara. Yang lebih mengharu birukan seorang nenek tua memelukku sambil menangis memberikan sebungkus nasi uduk.

Tuhanku...!

Rasanya lutut ini lemas tak berdaya. Air mata ini semakin deras membanjiri ku. Begitupun yang menyaksikan peristiwa ini. Mereka seakan terbawa arus yang ku alami.

Aku yang tadinya sempat menilai negatif thinking tentang ini semua.
Jadi mendapatkan suatu nilai moral yang luar biasa. Aku dan keluarga besarku yang biasa dengar Pasteur khotbah di gereja, atau denger Bhikkhu di vihara.

Tak pernah sampai seharu ini...!

Puji Tuhan....!!!

Di sinilah, di 212 lah aku menyaksikan dengan mata kepala ku sendiri. Bahwa merekalah orang-orang yang mempunyai hati terpilih. Yang mempunyai pesan moral yang tiada ternilai. Untuk menyikapi rasa persaudaraan sesama anak bangsa.

Siem Mei hwa.
( Susi Meliana waty ). 


Itulah sekilas tentang momentum 212 yang kini menjadi agenda tahunan umat islam di indonesia. Agenda ini diadakan setiap tanggal 2 Desember yang kini juga di meriahkan oleh tokoh-tokoh lintas agama. Sebetulnya banyak cerita haru yang di bagikan para peserta reuni 212 namun mungkin dilain kesempatan akan kita ulas lagi.

Kebijaksanaan tidak tumbuh dengan serta merta.

Buka Komentar

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
EmoticonEmoticon