Sunday, September 30, 2018

Perlunya Political Branding "Pencitraan" Dalam Kontestasi Politik

Perlunya Political Branding "Pencitraan" Dalam Kontestasi Politik

Tags

Politik pencitraan branding politic
Politic Branding

Bicara tentang branding atau merek ternyata tidak hanya dimiliki oleh suatu produk dari hasil industri saja. Tetapi ada juga branding yang dilakukan untuk menaikan sebuah popularitas dari seseorang. Istilah branding ini sering diartikan dengan istilah pencitraan, tapi sebetulnya branding ini lebih dari sekedar pencitraan. 


Secara sepintas arti branding dapat diartikan sebagai “pemberian merk” kepada suatu produk dengan tujuan untuk menanamkan kesan yang tidak terhapuskan (indelible impression) dari benak konsumen. 

Jika dilihat secara etimologis branding berasal dari kata brand yang sering diartikan sebagai sekumpulan pengalaman dan asosiasi yang berhubungan dengan pelayanan, orang atau entitas lain. Belakangan brand juga diartikan sebagai asesoris kultural dan filosofi personal.

Baca juga 
Jenis-jenis system politik yang berkembang

Brand merupakan identitas atau kepribadian yang mengidentifikasi sebuah produk, layanan atau lembaga ke dalam bentuk nama, tanda, simbol, design atau kombinasi di antara hal-hal tersebut, dan bagaimana identifikasi itu berhubungan kepada konstituen kunci seperti pasar, anggota, funding, dan lain-lain.

Brand juga dapat diterjemahkan sebagai totalitas pengetahuan konsumen tentang apa yang diketahui, dipikirkan, dirasakan dan diasosiasikan tentang suatu produk dan jasa atau suatu lembaga. Jadi tujuan pemberian branding (merek) ini supaya orang familiar dengan suatu produk atau jasa yang ditawarkan sipemilik brand tersebut.

Brand biasanya dibagi menjadi dua, yakni brand experience dan brand image. Brand experience merupakan pengalaman yang dimiliki pasar atau konsumen atas kontak yang mereka lakukan terhadap merk. 

Sementara brand image menyangkut pada persoalan psikologis, yakni bangunan simbolik yang tercipta di dalam pikiran pasar atau konsumen yang terdiri dari keseluruhan informasi dan harapan yang sering diasosiasikan dengan produk atau jasa sebuah merk. Brand imagesering dihubungkan dengan pemikiran, citra, perasaan, persepsi, keyakinan atau sikap.

Dalam panggung politik, branding sering kali hanya diartikan sebagai tindakkan pencitraan atau pembangunan image terhadap kandidat, yakni pada karakter personal kandidat. 

Branding dalam politik diartikan sebagai semua pengalaman, aktivitas dan unsur psikologis dalam menciptakan brand politik yang unggul, unik, menarik dan mampu memberikan pengaruh ke dalam benak konsumen/pemilih.

Branding politik dilakukan untuk mengatasi anjloknya citra diri yang terjadi pada politisi. Dengan kata lain, ini adalah strategi untuk political re-branding. Alasan inilah kemudian yang melatar belakangi dilakukan kembali branding untuk memperbaiki image pragmatis dan oportunis. Terutama pada tokoh-tokoh yang siklus citra dirinya sedang turun atau elektabilitasnya anjlok.

Pada pembangunan branding politik yang baik, prasyarat teknis yang harus dipenuhi adalah 

  1. Penyampaian pesan secara jelas dan komunikatif. 
  2. Mempertegas kredibilitas diri. 
  3. Menghubungkan target market yang prospektif kepada brand secara emosional. 
  4. Memotivasi target market. 
  5. Membangun loyalitas target market secara berkesinambungan. 

Di samping itu, untuk meraih sukses dalam branding, kandidat mesti memahami kebutuhan dan keinginan pasar dan bagaimana prospeknya. Hal ini dilakukan dalam setiap kontak dengan publik. Pembangunan branding yang baik dan konsisten bagi kandidat politik bisa membuat dirinya terlepas dari jebakan high cost campaign serta high cost politic melalui pendekatan political branding.

Salah satu contoh political re-branding yang sukses adalah perbaikan citra politik Tony Blair pasca perang Irak di tahun 2003.  Perdana Menteri Inggris itu banyak dihujat karena dianggap telah menjerumuskan Inggris ikut dalam perang Irak.

Merosotnya citra diri Tony Blair, sedikit banyak tentu mempengaruhi citra partai buruh yang mengusungnya. Jika dibiarkan, beberapa masa mendatang dipercaya  partai buruh bisa kehilangan kemampuan untuk memobilisasi pemilih. 

Maka disewalah konsultan Promise Plc untuk mengisolasi efek blair pada New Labour, brand partai buruh yang baru. Brand ini diposisikan sebagai merek premium yang menawarkan kualitas tinggi bagi yang mencari idealisme. 

Baca juga 
Fenomena Hebohnya hastag dan tagar

Image Tony Blair ditata lagi dengan pencitraan sebagai pemimpin segar yang penuh harapan, dan perang yang berat telah menjadikannya lebih matang. Tony Blair dibimbing agar menunjukkan ekspresi memahami gelombang kemarahan yang terjadi, serta harus bisa lebih mendengarkan.

Strategi masochisme yang diterapkan sebagai re-branding menjelang pemilu 2005 ini berhasil meningkatkan citra politik partai New Labour di mata floating massa menjadi lebih lembut. Dan hasilnya, Tony Blair kembali berhasil memperpanjang kedudukannya sampai tahun 2007. 

Tony Blair sendiri setelah pensiun dari posisi Perdana Menteri tetap punya pamor. Begitu besarnya pengaruh branding dalam kontestasi politik. Bahkan seseorang yang sudah hancur pamornya pun bisa di Re-Branding kembali hingga citranya tetap bertahan walaupun kontestasi sudah selesai. 

Personal branding sendiri memiliki sebuah siklus seperti sinusoidal yaitu kecenderungan untuk turun jika tidak dijaga. Saat ini bisa kita lihat political branding lebih banyak penerapan pada digital marketing. Hal ini dikarenakan media sosial dan market digital semakin diminati masyarakat.

Kebijaksanaan tidak tumbuh dengan serta merta.

Buka Komentar

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
EmoticonEmoticon