Monday, September 17, 2018

Label Fanatik Terhadap Orang Yang Taat Beragama Adalah Salah Tempat

Label Fanatik Terhadap Orang Yang Taat Beragama Adalah Salah Tempat

Tags

Label Fanatik Terhadap Orang Yang Taat Beragama Adalah Salah Tempat
Stigma Fanatik

Sifat fanatisme merupakan suatu sikap yang di tunjukan kepada segala sesuatu, seperti misalnya mengidolakan idola, aliran musik, makanan, politik, dan lain sebagainya secara berlebihan. Terjadinya sifat fanatisme berkaitan erat dengan psikologi seseorang. 


Lebih rincinya, Fanatisme adalah suatu pandangan tentang sesuatu, yang lebih condong kearah negatif, pandangan yang tidak memiliki sandaran dan membabi buta dianut secara mendalam sehingga susah diluruskan atau diubah. 

Menurut definisinya, Fanatisme biasanya tidak rasional atau sifat seseorang yang terlalu kuat dan kurang menggunakan akal budi sehingga tidak menerima faham yang lain dan bertujuan untuk mengejar sesuatu. Adanya fanatisme dapat menimbulkan perilaku agresif dan sekaligus memperkuat keadaan individu yang mengalami deindividualisasi untuk lebih tidak terkontrol perilakunya.

Orang yang fanatisme sering tidak menghiraukan norma-norma yang berlaku di tengah masyarakat. Akibat fanatisme, juga tak jarang kekerasan terjadi. Bahkan, bukan cuma melukai diri sendiri dan orang lain, fanatisme juga bisa mencabut nyawa.


Seseorang yang fanatik biasanya tidak mampu memahami apa-apa yang ada di luar dirinya, tidak faham terhadap masalah orang atau kelompok lain, tidak mengerti faham atau filsafat selain yang mereka yakini.

Stikma Buruk Yang Disematkan Kepada Orang Taat Beragama


Pasti kita pernah mendengar orang yang taat beragama di labeli fanatik agama. Sebetulnya stigma ini tidak cocok karna bukan pada tempatnya, tidak ada istilah fanatik dalam agama yang ada hanyalah taat beragama. 

Orang-orang yang suka menstigma seseorang yang taat beragama dengan istilah fanatik merupakan salah satu bentuk sikap intoleran dan ingin menjauhan seseorang kepada agama dan Tuhanya. Atau lebih tepatnya fanatik yang di capkan kepada orang yang taat beragama merupakan cara-cara Pembusukan terhadap agama yang di anut orang tersebut.

Sifat fanatisme lebih cendrung kepada hal-hal negarif yang tidak terkontrol. Taat beragama tentu akan berdampak positif pada seseorang karena yang bersangkutan akan mengaplikasikan dan merefleksikan segala hukum dalam kehidupan sehari-hari. Jadi tidak tepat label fanatik di sematkan kepada orang yang taat beragama. 

Karena pada dasarnya, tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan, peperangan dan permusuhan. Dengan ketaatan, seseorang tidak akan mencampur adukan kebenaran agamanya dengan kebenaran yang lain. 

Bertolak dari pemahaman inilah, kiranya kita perlu membedakan makna kata fanatisme dalam berbagai hal. Jika berkaitan dengan agama, istilah fanatisme tidaklah cocok untuk di pakai. Tetapi jika dikaitkan dengan politik, paham (golongan, suku, ras dll), termasuk kebudayaan, maka fanatisme harus dihilangkan. 

Fanatisme lebih cendrung merusak, karena fanatisme terkait dengan segala hal yang berhubungan dengan paham manusia atau hasil pikiran manusia. Seperti contoh fanatisme pada partai politik jelas hanya akan merusak hubungan persaudaraan karena adanya perbedaan kepentingan. 


Demikian juga dengan fanatisme terhadap tokoh-tokohnya. Sifat fanatisme merupakan gangguan kejiwaan yang menyakut psikologi seseorang. Cara menyembuhkanya yaitu dengan berkonsultasi kepada psikiater. 

Pada prinsipnya semua produk manusia adalah lemah dan penuh kekurangan. Oleh karena itu, fanatisme terhadap manusia adalah kebodohan yang harus kita buang jauh-jauh dari pikiran kita. Sementara ketaatan terhadap agama merupakan menerima dan melaksanakan semua yang diperintahkan Allah Swt dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya dan ini positif terhadap kehidupan kita.

Kebijaksanaan tidak tumbuh dengan serta merta.

Buka Komentar

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
EmoticonEmoticon