Saturday, December 16, 2017

Lima Hal Tak Diduga Yang Sering Dihadapi Pedagang Kaki Lima

Lima Hal Tak Diduga Yang Sering Dihadapi Pedagang Kaki Lima

Tags

Lima Hal Tak Diduga Yang Sering Dihadapi Pedagang Kaki Lima
PKL

Pedagang kaki lima atau (PKL) merupakan profesi halal yang banyak di lakoni orang. Apalagi di kota-kota besar sangat banyak yang jadi PKL. Menjadi seorang PKL bukanlah pilihan bagi mereka. Tapi sudah menjadi takdir dan jalan hidup mereka. Minimnya modal hal inilah yang membuat mereka harus menjadi seorang PKL berjuang demi memenuhi kebutuhan hidup.

PKL memang terkadang menggangu ketertiban umum, berjualan di badan jalan. Tapi mau gimana lagi mereka harus mencari nafkah untuk keluarga mereka. Taukah kamu ternyata para PKL itu banyak sekali dukanya loh. Dirangkum dari penelusuran admin dan wawancara terhadap salah seorang teman dekat admin yang profesinya menjadi PKL. Ternyata banyak hal yang harus ia hadapi setiap harinya untuk bisa tetap berjualan. Apa sajakah itu, mari simak poin-poin berikut.

Derita PKL (pedagang kaki lima)


1. Iyuran Harian.


Tau gak sih ternyata para pedagang kaki lima itu ada iyuran harianya juga loh. Memang tidak ada yang gratis di dunia ini mangkal di pinggir jalanpun ada iyuran wajib tiap harinya. Jangan pernah berfikir kalo pedagang kaki lima itu tidak menggeluarkan biaya untuk sewa tempat. Malahan kalo di kalkulasikan iyuran harian yang di keluarkan pedagang kaki lima di pinggir jalan tidak kalah besar dari sewa satu toko perbulanya.

Menurut pengamatan serta sudah admin konfirmasi langsung pada salah seorang teman, yang kebetulan profesinya sebagai pedagang kaki lima. Setiap kali dia mangkal (jualan) harus membayar paling sedikit 50 ribu. Ini adalah iyuran wajib masih ada yang harus dibayar setelah ini. Iyuran sebesar 50 ribu ini biasanya diminta langsung sama orang yang berkuasa ditempat itu, biasanya di sebut koordinator lapangan. Sekarang coba kamu kalkulasikan iyuran wajib 50/hari kali satu bulan dan kali 1 tahun. Total biaya wajibnya 1 tahun sekitar 18 juta bro sama dengan sewa sebuah kios.

Disini pasti muncul pertanyaan lagi kalau iyuran wajib yang di keluarkan PKL pertahunya bisa mencapai 18 juta. Lantas kenapa tak sewa kios atau toko saja ?. Disinilah permasalahanya bro kata teman saya mereka tak mampu menyediakan uang kes dengan nominal sebesar itu. Istilah kasanya gak ada modal kes untuk bayar kontrakan kios. Pemilik kios mana mau sewa kiosnya di cicil.

2. Pungutan Liar.


Menjadi pedagang kaki lima (PKL) ternyata sungguh berat dan tidak mudah bro. Banyak hal-hal tak terduga yang siap menimpa. Tak hanya harus piawai mengobral daganganya tapi. Mental juga harus di tuntuk untuk seorang pedagang kaki lima (PKL). Tak jarang kita dengar para PKL berantem memperjuangkan nasipnya. Kejadian seperti ini biasanya di picu oleh pungutan liar para preman istilah kasarnya berandalan.

Berprofesi sebagai PKL secara mental memang harus kuat. Karena untuk antisipasi terhadap gangguan preman yang meminta pungutan liar. Setiap harinya PKL pasti di hadapkan oleh persoalan ini. Pungutan yang di minta beragam mulai dari 2 ribu, 5 ribu, sampai 10 ribu. Itupun bukan cuma satu kali aja. Dalam satu hari bisa beberapa kali di tagih. Para PKL harus siap mental menghadapinya harus pandai-pandai menolak atau negosiasi kalo tidak siap-siaplah merugi.

Jika di kalkulasikan pungutan liar yang harus di keluarkan oleh seorang PKL kurang lebih 300 ribu perbulanya. Total dalam satu tahun sekitar 3,6 jutaan. Nilai yang cukup besar untuk seorang PKL bukan ?. Makanya PKL itu sering kita dengar berantem memperjuangkan nasipnya dari gangguan para preman dan berandalan. Hidup mereka memang keras kawan.

3. Dikejar-kejar Petugas Kamtip.


Persoalan berikutnya yang sering di hadapi para pedagang kaki lima (PKL) adalah di kejar-kejar petugas kamtip. Berdagang di pinggir badan jalan memang tidak dibolehkan. Alasan utamanya mengganggu ketertipan umum. Begitulah peraturan yang diberlakukan di berbagai daerah. Tapi apa mau dikata nasip ingin mencari sesuap nasi alasan satu-satunya para PKL tetap nekat menggelar daganganya di pinggir jalan.

Pada dasarnya pinggir jalan merupakan tempat strategis orang-orang berlalu lalang. Faktor inilah yang di harapkan menjadi kemungkinan besar dagangan akan cepat laku. Itulah kenapa para PKL sering menggelar dagangan di pinggir jalan. Dikejar-kejar petugas kamtib seolah tak masalah lagi bagi mereka.

Mau bagai mana lagi demi kelangsungan hidup keluarga karna terbatasnya modal untuk menyewa kios. Disaat razia penertipan berlangsung, tak cuma sekedar di kejar-kejar petugas kamtib saja. Tapi terkadang PKL juga harus siap barang dagangan mereka di ambil bahkan di rusak oleh oknum kamtib yang nakal. Pilu memang nasib para PKL, di satu sisi mereka memang melanggar peraturan tapi di sisi lain mereka juga harus berjuang demi isi perut keluarganya.

4. Penghasilan Yang Tak Seberapa.


Namanya juga pedagang kaki lima (PKL), penghasilan tak seberapa tapi banyak pengeluaran tak terduga. Namun begitulah kenyataan hidup yang harus mereka perankan. Setiap manusia punya jalan hidupnya masing-masing. Yang terpenting berusaha dengan cara yang halal, tidak nyolong, merampok bahkan korupsi.

Coba kamu tebak berapakah kira-kira penghasilan bersih PKL perharinya, di luar modal daganganya ?. Menurut penuturan teman admin yang berprofesi sebagai PKL. Penghasilan bersih para PKL tergantung pada jenis dagangan yang mereka jual. Contoh teman saya jenis daganganya pakaian, keuntungan bersih perharinya berkisar antara 100 ribu sampai 150 ribuan. Itupun ketika lagi rame-ramenya kalau lagi sepi kadang mereka malah nombok untuk bayar ini itu.

5. Keadaan Cuaca.


Keadaan cuaca juga sangat berpengaruh pada PKL. Mereka harus cermat melihat perkiraan cuaca. Jika nekat gelar dagangan pada waktu hujan turun maka siap-siaplah untuk merugi. Pembeli akan sepi barang dagangan bisa basah kena guyuran hujan. Begitulah nasip para PKL mereka lebih menginginkan cuaca cerah ketimbang hujan.

Jika PKL yang jenis daganganya tak rusak kena air mungkin tidak mengapa. Contoh para pedagang buah, pedagang sayur dan sebagainya mungkin tidak terlalu kuatir. Tapi kalau jenis dagangan yang sensitif terhadap air, hujan merupakan halangan terberat bagi mereka untuk mencari nafkah. Contoh para pedagang pakaian, aksesories makanan dan sebagainya.

Begitulah nasip para PKL minimnya modal yang memaksa mereka berprofesi sebagai PKL. Apapun rintangan yang ada mereka harus tetap berjuang demi menafkahi keluarganya. Bersyukurlah kita yang sudah di berikan rezeki lebih, bisa bekerja dengan nyaman tanpa banyaknya gangguan.

Makanya bro kalau belanja pada pedagang kaki lima gak usah pelit. Jangan nawar terlalu sadis mereka juga mengambil untung tidaklah banyak. Coba bandingkan dengan harga di toko. Harga di kaki lima jauh lebih murah padahal kualitas barangnya hampir sama tempat mereka belanja/grosirnya juga sama dengan pedagang yang di toko dan kios loh.

A man is known by the companion he keeps !

Buka Komentar

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
EmoticonEmoticon