Saturday, October 14, 2017

Macan Asia Era Keemasan Indonesia Di Zaman Presiden Soeharto

Macan Asia Era Keemasan Indonesia Di Zaman Presiden Soeharto

Tags

Macan Asia Era Keemasan Indonesia Di Zaman Presiden Soeharto
Presiden Soeharto

Seorang Jendral yang menjadi Presiden terlama dalam sejarah negara Indonesia adalah Soeharto, Presiden kedua Indonesia ini bernama lengkap Muhammad Soeharto lahir pada tanggal 8 Juni 1921 di Bantul, Yogyakarta. Soeharto adalah anak ke tiga dari pasangan Kertosudiro dan Sukirah.

Di dunia internasional sang Jenderal lebih populer dengan sebutan “The Smiling General”(sang Jendral yang tersenyum). Awal kepemimpinan Soeharto ditandai dengan adanya konsep Orde Lama dan Orde Baru. Orde Lama adalah sebutan bagi kepemimpinan Presiden Soekarno sedang Orde Baru adalah sebutan untuk masa kepemimpinan Soeharto.

Orde Baru merupakan masa Indonesia setelah turunnya Presiden Soekarno dan digantikan oleh kepemimpinan Soeharto. Dalam masa kepemimpinannya yang berlangsung selama lebih dari tiga puluh tahun, Indonesia mengalami masa-masa yang menurut masyarakat secara umum merupakan masa pembangunan ekonomi.

Kemajuan pembangunan ekonomi ini dirasakan sangat signifikan oleh masyarakat karena sebelumnya pada tahun 1966 Indonesia mengalami gejolak ekonomi yang luar biasa dimana inflasi mencapai 650%.

Adapun beberapa hal positif yang didapatkan dari pembangunan ekonomi secara umum pada masa Orde Baru ini antara lain pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, serta perkembangan sektor pertanian.

Prestasi luar biasa yang diperoleh dari perkembangan sektor pertanian ini adalah Indonesia bisa mengubah status dirinya dari Negara pengimpor beras terbesar di dunia menjadi Negara pengekspor beras terbesar di dunia dan mencapai swasembada pangan pada tahun 1980-an.

Swasembada beras menjadi isu yang sangat penting dalam masa Orde Baru, karena ia merupakan prestasi di masa itu.Hal yang menarik menjadi pertanyaan adalah mengapa setelah turunnya Soeharto, Indonesia kini kembali lagi menjadi pengimpor beras dunia dan bahkan masuk sebagai empat besar Negara pengimpor beras di dunia.

Ini mengindikasikan bahwa saat itu Soeharto benar-benar berperan langsung untuk mewujudkan hal tersebut. Pelaksanaan Revolusi Agraria sebagai upaya peningkatan produksi pangan. Kemajuan ekonomi bisa dicapai oleh pemerintahan Soeharto melalui komitmennya yang besar terhadap pembangunan ekonomi sebagai salah satu cara untuk mewujudkan legitimasi politiknya di hadapan rakyat.
 
Kestabilan ekonomi merupakan target yang harus dicapai. Arah dan pola pembangunan ekonomi pada masa Soeharto dituangkan dalam bentuk Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang sudah dilaksanakan sampai dengan Pelita VII (sampai tahun 1996).

Oleh karena itu, swasembada pangan merupakan hal yang sangat bukan tidak mungkin, karena ia memang menjadi fokus tersendiri dalam rencana pembangunan yang dibuat oleh Soeharto. Di dalam Pelita I bahkan Pertanian dan Irigasi dimasukkan sebagai satu bab tersendiri dalam rincian rencana bidang bidang.

Di dalam rincian penjelasan dijelaskan bahwa tujuannya adalah untuk peningkatan produksi pangan terutama beras.

 “Peningkatan produksi pangan bertujuan agar Indonesia dalam waktu lima tahun yang akan datang tidak usah meng- impor beras lagi . Tujuan lain ialah memperbaiki mutu gizi pola konsumsi manusia Indonesia melalui peningkatan produksi pangan yang mengandung protein chewani dan nabati, terutama ikan dan katjang-katjangan. 

 Akibat positif dari peningkatan produksi beras ialah bahwa lambat-laun tidak perlu lagi mengimpor pangan, sehingga dengan demikian devisa yang langka itu dapat digunakan untuk mengimpor barang modal dan bahan baku jang diperlukan untuk pembangunan sektor-sektor lain, terutama sektor industri. 

 Selanjutnya, peningkatan produksi pangan akan meningkat-kan pendapatan petani-petani pangan. Ini akan meningkatkan taraf penghidupan para petani yang telah sekian lamanya hidup dalam serba kesengsaraan dan kemiskinan.” (kutipan kalimat yang terdapat dalam buku pedomen Repelita). 

Hal tersebut menunjukkan bahwa Soeharto tidak main main dengan targetnya. Dalam mengupayakan tujuan tersebut bisa dicapai, di dalam pedoman Repelita bahkan di-breakdown hasil pertanian apa saja yang ingin ditingkatkan dan bagaimana langkah-langkah strategis untuk mewujudkannya.

Pembangunan sektor pertanian ini merupakan wujud dari Revolusi Agraria di Indonesia yang ditempuh melalui empat langkah, yaitu intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi, dan rehabilitasi pertanian. Beras sendiri, seperti sudah disebutkan tadi, menjadi komoditas yang menjadi focus utama di Pelita I. 

Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan produksi beras, antara lain melalui pembuatan dan perbaikan sarana irigasi di berbagai daerah persawahan, pemberian modal bagi masyarakat petani, penelitian dan penggunaan bibit unggul, serta modernisasi pertanian melalui teknologi. 

Penghargaan FAO Diperoleh Indonesia Saat Pemerintahan Presiden Soeharto.


Macan Asia Era Keemasan Indonesia Di Zaman Presiden Soeharto
Panen Bersama Presiden Soeharto

Ketika pada 1984 Indonesia dinyatakan mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan beras atau mencapai swasembada pangan. Organisasi Pangan Dunia (FAO) pun mengundang Soeharto untuk menerima penghargaan atas prestasinya. 

Ini adalah salah satu prestasi besar yang pernah diterima Soeharto di kancah internasional. Sebagai wujud rasa syukurnya, Soeharto pun juga membawa buah tangan, yaitu gabah sebanyak 100.000 ton yang dikumpulkan secara gotong royong dan sukarela oleh petani Indonesia untuk diteruskan kepada warga-warga yang mengalami kelaparan di berbagai belahan dunia, khususnya di Afrika.


“Bantuan antar petani ini merupakan sejarah yang pertama kali terjadi di dunia, sekaligus merupakan indikasi, keberhasilan pertanian saat itu di Indonesia.

Demikian tertera pada halaman Soeharto Center.Prestasi itu membalik kenyataan, dari negara agraria yang mengimpor beras, kini Indonesia mampu mencukupi kebutuhan pangan di dalam negeri. Pada tahun 1969 Indonesia memproduksi beras sekitar 12,2 juta ton, beras tetapi tahun 1984 bisa mencapai 25,8 juta ton. 

 Bagaimana Soeharto bisa menggalang para petani untuk bekerjasama melakukan revolusi pangan? Untuk meningkatkan produksi pangan dengan memperluas lahan garapan adalah sangat sulit karena memerlukan dana yang besar, disamping keterbatasan lahan di sejumlah lumbung padi seperti jawa, Bali dan Sumatra.Kebijakan yang ditempuh kemudian adalah menitikberatkan kepada usaha intensifikasi, dengan menaikkan produksi terutama produktivitas padi pada areal yang telah ada. 

 Pada waktu itu rata-rata petani hanya memiliki setengah hektare dan kemampuan penguasaan teknologi tanam juga belum banyak dikuasai kecuali bercocok tanam secara tradisional. Pemerintah pun mencetak sejumlah tenaga penyuluh pertanian, membentuk unit-unit koperasi untuk menjual bibit tanaman unggul, menyediakan pupuk kimia dan juga insektisida untuk membasmi hama.Sistem pengairan diperbaiki dengan membuat irigasi ke sawah-sawah sehingga banyak sawah yang semula hanya mengandalkan air hujan, kini bisa ditanami pada musim kemarau dengan memanfaatkan sistem pengairan. 

Lahan-lahan percontohan pun dibangun, kelompok petani dibentuk di setiap desa untuk mengikuti bimbingan dari para penyuluh pertanian yang disebut Intensifikasi massal (Inmas) dan Bimbingan massal (Bimas). Bukan hanya lewat tatap muka, tetapi juga disiarkan melalui radio dan televisi bahkan juga sejumlah media cetak menyediakan halaman khusus untuk koran masuk desa dengan muatan materi siaran yang khas pedesaan, membimbing petani.


Macan Asia Era Keemasan Indonesia Di Zaman Presiden Soeharto
Swasembada pangan

Keberhasilan ini telah membuat Edouard Saouma, Direktur Jenderal FAO, mengundang Presiden Soeharto untuk bicara pada forum dunia, pada tanggal 14 November 1985.Organisasi pangan dan pertanian PBB itu, meminta Soeharto untuk berbicara tentang pengalaman Indonesia dalam upaya menaikan tingkat produktivitas dengan mencapai tingkat berswasembada pangan tersebut. 

 Soeharto menyatakan, bahwa negara-ngara maju mempunyai tanggungjawab dan kemampuan untuk memberi kesempatan kepada negara-ngara yang sedang membangun untuk ikut maju dan sejahtera dalam menggalakkan pembangunan ekonomi dunia yang lebih adil dan merata.


“Dari pada kemampuan dan modal besar yang tersedia digunakan untuk adu kekuatan senjata yang menjurus kepada kesengsaraan dan penderitaan manusia, lebih baik dipergunakan untuk memenuhi tanggungjawab (kemanusiaan) itu, sehingga terwujud suatu tatanan hubungan dan kerjasama internasional yang mendatangkan keadilan sosial yang merata di seluruh dunia. Itulah yang menjadi idam-idaman semua umat di dunia. ujar Soeharto waktu itu. 

Pada Juli 1986, Eddouard Saouma menyebut Soeharto sebagai lambang perkembangan pertanian Internasional. Ia tiba di Jakarta untuk menyerahkan penghargaan berupa medali emas FAO. Medali yang terdiri dari dua jenis, yakni yang berukuran kecil dan satunya lebih besar, berukiran timbul bergambar Soeharto dengan tulisan “President Soeharto Indonesia” dan sisi lain bergambar seorang petani yang sedang menanam padi, bertuliskan “From Rice Importer to Self-Sufficiency”. 

Takhanya itu Indonesia di masa Presiden Soeharto juga sukses dalam pelaksanaan program kependudukan dan keluarga berencana, Presiden Soeharto mendapat piagam penghargaan perorangan di Markas Besar Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di New York pada 8 Juni 1989. “Kenaikan produksi pangan tidak banyak berarti jika pertambahan jumlah penduduk tidak terkendali,” tandas Soeharto. 

 Dia dianugerahi UN Population Award, penghargaan tertinggi PBB di bidang kependudukan. Penghargaan itu disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal PBB, Javier de Cueller di Markas Besar PBB, New York bertepatan dengan ulang tahun Soeharto yang ke-68 pada 8 Juni 1989. Soeharto makin dilirik ketika berhasil menegakkan harkat bangsa Indonesia di latar ekonomi Asia. 

 Di ASEAN, dia dianggap berjasa ikut mengembangkan organisasi regional ini sehingga diperhitungkan di dunia. “Tanpa kebaikan dan kehadiran Soeharto, kami akan menghabiskan banyak jatah produk domestic bruto di bidang pertahanan,” ujar Perdana Menteri Australia Paul Keating ketika itu. Paul Keating menyebut Soeharto sebagai “ayah”. 

Lagi-lagi Presiden Soeharto membawa Indonesia semakin di hargai dunia. Kebaikan dan Jasa Besar Presiden Soeharto Prof. Emil Salim dalam "Soeharto Media Center Pusat Kajian dan Informasi" menegaskan bahwa Soeharto pernah berjasa menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran. 

1. Bidang ekonomi. 


 Laju inflasi menjelang peristiwa G-30-S/PKI bisa dibilang edan karena berada di kisaran 650 persen. Indeks biaya hidup tahun 1960 sampai tahun 1966, naik 438 kali! Harga beras naik 824 kali! Harga tekstil naik 717 kali! Sementara harga-harga itu mengganas, nilai rupiah sekarat dari Rp 160 saja menjadi Rp 120 ribu. 

Melalui program rehabilitasi dan stabilisasi ekonomi yang cukup progresif dan komprehensif berhasil dilakukan, pertama, pengendalian inflasi melalui kebijakan anggaran berimbang, dan kebijakan moneter ketat. Kedua, pencukupan kebutuhan pangan. Ketiga, pencukupan kebutuhan sandang. Keempat, rehabilitasi berbagai sarana dan prasarana ekonomi. 

 Kelima, peningkatan ekspor dengan mengembalikan share sepenuhnya pada eksportir. Hasilnya, laju inflasi bisa dijinakkan dari kisaran 650 persen (1966) melunak menjadi 100 persen (1967), turun lagi menjadi 50 persen (1968), dan bahkan terkendali di bilangan 13 persen (1969).  

2. Bidang politik. 


 Presiden Soeharto berjasa menumpas PKI dan mewujudkan stabilitas keamanan dan politik dalam kurun waktu yang panjang. Emil Salim mengakui bahwa di era 60-70an Pak Harto begitu piawai memadukan komponen bangsa, sampai-sampai republik ini bisa selamat dari liang kubur di pertengahan tahun 60-an. 

 Frans Seda menilai bahwa pada awal-awalnya, pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto bisa dikatakan sebagai pemerintahan demokratis, terbuka, transparan, dan komunikatif. 

Selanjutnya Frans Seda berpendapat, ''Memang setelah anak-anaknya (Soeharto) gede, kebijakan ekonomi jadi bias. Setelah merasa memperoleh personalized power, Pak Harto memborong semua sejarah. Seolah-olah, keberhasilan pemerintahan Orde Baru adalah berkat strateginya sendiri.  

3. Bidang sosial. 


 Presiden Soeharto berjasa pula dalam pemberian bantuan sosial. Dia mendirikan puluhan yayasan, mengumpulkan dana dan mengalokasikan kepada kegiatan sosial. Yayasan-yayasan yang didirikan di antaranya, Yayasan Trikora untuk membantu beasiswa bagi anak-anak yatim yang orang tuanya gugur dalam perang merebut Irian Barat. 

Yayasan Dwikora untuk memberikan bantuan beasiswa kepada anak-anak yatim korban konfrontasi dengan Malaysia, Yayasan Seroja untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak yatim yang orang tuanya gugur dalam perang di Timor Timur, Yayasan Supersemar untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak cerdas yang orang tuanya tidak mampu untuk mengikuti pendidikan S1, S2 dan S3 di berbagai universitas. 

 Selain itu, Presiden Soeharto mendirikan pula Yayasan Harapan Kita yang kemudian mendirikan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila untuk membantu pembangunan masjid, dan banyak lagi yayasan yang didirikan Presiden Soeharto. 

Berbagai yayasan yang didirikan itu jelas untuk kepentingan sosial, maka sangat tidak masuk akal dan bersifat politis kalau pendirian puluhan yayasan itu dituduhkan untuk memperkaya diri sendiri dan kemudian dijadikan sebagai entry point untuk menjeratnya melakukan perbuatan korupsi. 

4. Berjasa menyelamatkan bangsa ini dari pertumpahan darah. 


 Saadillah Mursyid mengungkapkan pada detik-detik terakhir ketika mendampingi Pak Haro sebagai Presiden Republik Indonesia sebelum menyatakan berhenti dari jabatan sebagai Presiden RI., Pak Harto mengatakan, ''Segala usaha untuk menyelamatkan bangsa dan negara telah kita lakukan. 

 Tetapi Tuhan rupanya berkehendak lain. Saya tidak mau terjadi pertumpahan darah.'' Padahal kalau Pak Harto mau melakukan tindakan tegas dan keras terhadap para demonstran seperti rezim militer di Miyanmar, kekuasaannya bisa terselamatkan karena TNI semuanya tetap loyal dan mendukung kepemimpinan beliau. Begitu pula Golkar sebagai partai pendukung pemerintah dan single majority di parlemen, masih kukuh mendukungnya. 

Akan tetapi, Pak Harto tidak mau menggunakan kekuasaannya untuk bertahan dengan menumpas para mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa. Keberhasilan Indonesia era keemasan pada masa Presiden Soeharto, diantaranya:

  1. Perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanya AS$70 dan pada 1996 telah mencapai lebih dari AS$1.000
  2. Sukses transmigrasi
  3. Sukses KB
  4. Sukses memerangi buta huruf
  5. Sukses swasembada pangan
  6. Pengangguran minimum
  7. Sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
  8. Sukses Gerakan Wajib Belajar
  9. Sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh
  10. Sukses keamanan dalam negeri
  11. Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia
  12. Sukses menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri.

Artikel: Dirangkum dari berbagai sumber.

Kebijaksanaan tidak tumbuh dengan serta merta.

Buka Komentar

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
EmoticonEmoticon