Tuesday, September 05, 2017

Perkembangan Islam Di Myanmar Dan Faktor Konflik GENOSIDA.

Perkembangan Islam Di Myanmar Dan Faktor Konflik GENOSIDA.

Tags

Perkembangan Islam Di Myanmar Dan Faktor Konflik GENOSIDA.
Sejarah Islam Myanmar

RancaxMyanmar adalah negara yang berada dalam kawan Asia Tenggara. Menurut catatan sejarah, komunitas Muslim telah mendiami wilayah Arakan (nama kuno Rakhine) sejak masa pemerintahan seorang raja Buddhis bernama Narameikhla atau Min Saw Mun (1430–1434) di kerajaan Mrauk U.

Sebenarnya islam di Myanmar ada di beberapa tempat bukan hanya di rohingnya. Namun komunitas islam tersebut tidak terlalu menonjol karna, Islam di Myanmar termasuk dalam agama minoritas, dengan persentase sekitar 4% dari jumlah penduduk di seluruh Myanmar.

Bermula dari abad ke 7, para pedagang Arab datang dari Madagaskar melakukan perjalanan ke Cina melalui kepulauan India Timur, berhenti di Thaton dan Martaban. Orang laut Bago, mungkin menjadi Muslim, juga tercatat oleh para sejarawan Arab abad ke 10. Mengikuti perjalanan ini, pelaut dan tentara Muslim Burma dilaporkan telah melakukan perjalanan ke Melaka selama pemerintahan Sultan Parameswara pada abad ke 15.

Dari abad ke 15 hingga 17, ada beberapa catatan dari para pelaut, pedagang, dan penduduk Muslim Burma tentang seluruh pesisir Burma, pantai Arakan, (Rakhine), delta Ayeyarwady dan pantai dan kepulauan Tanintharyi. Pada abad ke 17, Muslim menguasai perdagangan dan menjadi kuat. Mereka diangkat menjadi Gubernur Mergui, Raja Muda Propinsi Tenasserim, Penguasa Pelabuhan, Gubernur Pelabuhan dan Shahbandar (para pegawai pelabuhan senior).

Populasi Islam di Myanmar sempat meningkat pada masa penjajahan Britania Raya, dikarenakan banyaknya umat Muslim India yang bermigrasi ke Myanmar.  Tapi, populasi umat Islam semakin menurun ketika perjanjian India-Myanmar ditandatangani pada tahun 1941.

Sebagian besar Muslim di Myanmar bekerja sebagai penjelajah, pelaut, saudagar dan tentara. Beberapa diantaranya juga bekerja sebagai penasehat politik Kerajaan Burma. Muslim Persia menemukan Myanmar setelah menjelajahi daerah selatan Cina.

Koloni muslim Persia di Myanmar ini tercatat di buku Chronicles of China di 860. Umat muslim asli Myanmar disebut Pathi dan muslim Cina disebut Panthay. Konon, nama Panthay berasal dari kata Parsi. Kemudian, komunitas muslim bertambah di daerah Pegu, Tenasserim, dan Pathein. Pada abad ke-19, daerah Pathein dikuasai oleh tiga raja muslim India.

Pada zaman Raja Bagan yaitu Narathihpate (1255-1286), pasukan muslim Tatar pimpinan Kublai Khan dan menguasai Nga Saung Chan. Kemudian, pasukan Kublai Khan ini menyerang daerah Kerajaan Bagan. Selama peperangan ini, Kolonel Nasrudin juga menguasai daerah Bamau.

Populasi umat Islam yang ada di Myanmar saat ini terdiri dari keturunan Arab, Persia, Turki, Moor, Pakistan dan Melayu. Selain itu, beberapa warga Myanmar juga menganut agama Islam seperti dari etnis Rakhin dan Shan.

Pada umumnya masyarakat muslim di Burma terbagi dalam tiga komunitas yang berbeda, dan masing-masing komunitas muslim ini mempunyai hubungan yang berbeda-beda dengan mayoritas masyarakat Budha dan pemerintah.

Komunitas muslim yang terdapat di Myanmar yaitu:


1. Muslim Burma atau Zerbadee, merupakan komunitas yang paling lama berdiri dan berakar di wilayah Shwebo. Diperkirakan mereka merupakan keturunan dari para mubalig yang datang dari timur tengah dan Asia selatan serta penduduk muslim awal yang kemudian beranak pinak dengan masyarakat Burma.

2. Muslim India, Imigran Keturunan India, merupakan komunitas muslim yang terbentuk seiring kolonisasi Burma oleh Inggris.

3. Muslim Rohingya (Rakhine) yang bermukim di Negara bagian Arakan atau Rakhine, yang berbatasan dengan Bangladesh.

Daerah Arakan secara geografis terpisah dengan sebagian besar wilayah negara Myanmar yang menganut agama Buddha. Daerah tersebut dipisahkan oleh Gunung Arakan. Luas provinsi itu sekitar 20 ribu mil persegi dan Akyab adalah ibu kota provinsinya. Kata Arakan berasal dari Arkan (Rukun) yang telah dihuni Muslim selama lebih dari 350 tahun sebelum invasi Burma.

Nama Rohingya yang kemudian diasosiasikan sebagai umat Muslim di Myanmar itu diambil dari nama kuno untuk daerah Arakan. Ada juga yang mengatakan bahwa istilah ini berasal dari kata“rahma” (rahmat) dalam bahasa Arab atau “rogha” (perdamaian) dalam bahasa Pashtun.

Selain itu, ada pula yang mengaitkannya dengan wilayah Ruhadi Afghanistan yang dianggap sebagai tempat asal Rohingya. Secara genealogis bangsa Rohingya adalah keturunan India. Mereka menempati Arakan sejak sebelum Masehi.

Penelitian Mengungkap Ternyata Etnis Rohingya Adalah Pribumi Asli Myanmar.


Peneliti asal Skotlandia, Francis Buchanan, mengungkapkan, kaum Mohammedan (yang secara harfiah berarti pengikut Muhammad atau Muslim) telah lama menetap di Arakan. "Orang-orang itu menyebut diri mereka sebagai Rooinga yang berarti masyarakat pribumi asli Arakan," tulis Buchanan dalam laporannya, "Asiatic Research 5", yang diterbitkan pada 1799.

Sementara tiu, sebagaimana dilansir Republika, Minggu (31/5/2015), sensus yang dilakukan pemerintah kolonial Inggris di Burma pada 1826, 1872, 1911, dan 1941 juga menyebutkan, masyarakat Rohingya yang diidentifikasi sebagai Muslim Arakan adalah salah satu ras asli di Burma.

Menurut hasil dokumentasi SIL Internasional (sebuah lembaga bahasa dunia yang memiliki status konsultatif khusus dengan PBB), bahasa Rohingya Myanmar masuk dalam rumpun dialek Indo-Arya. Bahasa ini terdaftar dengan kode "rhg" dalam tabel ISO 639-3.

Meski dialek yang dipertuturkan orang-orang Rohingya berbeda dengan yang diucapkan penduduk Burma di Rakhine sekarang, fakta sejarah membuktikan bahasa Rohingya mempunyai kesamaan dengan bahasa yang digunakan masyarakat Vesali kuno (antara 327-818).

Di samping itu, hasil kajian Universitas Oxford sepanjang 1935-1942 menyimpulkan, kebudayaan Rohingya sama tuanya dengan usia Monumen Batu Ananda Sandra yang didirikan di Arakan pada abad kedelapan silam.

Semua catatan di atas dapat menjadi gambaran bahwa etnik Muslim Rohingya memiliki akar sejarah yang kuat sebagai salah satu ras pribumi asli di Rakhine-- yang sekarang menjadi bagian dari wilayah Myanmar. Oleh karena itu, tidak ada pembenaran untuk mencap etnik Rohingya sebagai ras asing hanya karena mereka menganut ajaran Islam dan menggunakan nama-nama Muslim.

Pemimpin Rohingya yang juga politikus Partai Pembangunan Uni Nasional di Myanmar, Abu Tahay, memaparkan sejarah keberadaan kelompok etnis tersebut dalam karya tulisnya, "Rohingya Belong to Arakan and Then Burma and So Do Participate."

Di situ disebutkan, sejarah etnis Rohingya bermula ketika masyarakat kuno keturunan Indo-Arya yang menetap di Arakan (Rakhine sekarang--Red) memutuskan untuk memeluk Islam pada abad ke-8. Pada masa-masa selanjutnya, generasi baru mereka kemudian juga mewarisi darah campuran Arab (berlangsung pada 788-801), Persia (700- 1500), Bengali (1400-1736), dan ditambah Mughal (pada abad ke-16).

Catatan sejarah mengungkapkan, Syiar Islam mencapai Arakan sebelum 788 Masehi.

Islam memainkan peranan penting bagi kemajuan peradaban di Arakan. Umat Islam, Buddha, dan Hindu hidup berdampingan selama berabad-abad dalam suasana rukun dan penuh persahabatan. Mereka (kelompok Muslim, Buddha, dan Hindu) juga memerintah negeri Arakan bersama-sama.

Letnan Kolonel Win Maung, yang pernah bekerja di Direktorat Transmigrasi Kementerian Pertahanan Myanmar, pernah menerbitkan buku berjudul The Light of Sasana (Cahaya dari Sasana) pada 1997 lalu. Pada halaman 65 buku itu disebutkan, agama Islam sudah diperkenalkan ke Myanmar sejak 1.000 - 1.200 tahun silam.

Faktor Penyebab Konflik (Pembantaian) Minoritas Rohingnya Yang Tak Berkesudahan.


1. Tanah Arakan yang kaya sumber daya alam.


Tanah arakan yang didiami warga Rohingya merupakan sumber daya alam bagi myanmar. Keberadaan orang-orang rohingya ini dianggap sebagai penggagu.

2. Krisis identitas orang-orang Rohingya


Salah satu Penyebab Konflik Rohingya adalah masalah identitas. Orang-orang ini tidak mendapatkan tempat di manapun. Mereka tidak mempunyai kewarganegaraan, namun bersikaeras untuk tetap tinggal di Myanmar. Nenek moyang mereka berasal dari Bangladesh, namun itu sudah ratusan tahun yang lalu. Sejak 1400an ketika mereka tiba di Myanmar. Kini tidak ada negara yang menerimanya.

3. Tuduhan Pemerkosaan dan pembunuhan


Ada suatu kejadian yang membuat marah para orang-orang di Rakhine. Ma Thida Htwe, seorang gadis Buddha berumur 27 tahun, putri U Hla Tin, dari perkampungan Thabyechaung, Desa Kyauknimaw, Yanbye, ditikam sampai mati oleh orang tak dikenal. Orang yang tak dikenal tersbut dituduh adalah seorang muslim dari etnis rohingya. Namun beberapa sumber hal itu hanyalah fitnah, karena sang pembunuh adalah pacar sendiri.

4. Pemerintah Myanmar tidak mengakui Rohingya


Pemerintah Myanmar menganggap Muslim Rohingya adalah imgran haram yang datang dari Bangladesh. Pemerintah Myanmar mengatakan masuknya warga pada 1950, yaitu setelah Myanmar menjadi negara berdaulat. Meskipun beberapa catatan sejarah menunjukan meraka telah berada disana sejak 1400an melalui kegiatan perdagangan. Namun pemerintah Myanmar tidak mengakui catatan sejarah itu.

5. Kampung halaman Bangladesh tidak mengakui Rohingya


Negara nenek moyang Rohingya dengan tegas mengatakan bahya etnis Rohingya yang berada di Myanmar bukanlah warga negaranya, dan melarang warga negaranya yang memeberi bantuan kepada warga rohingya di Myanmar, termasuk memberi tempat pengungsian. Hal ini tentu sangat menyakitkan bagi warga rohingnya di Myanmar yang tidak memiliki tempat untuk berdiam setelah diusir dari “rumahnya”. Rohingya Myanmar akan terus menjadi penduduk kapal bila tidak ada negara yang mengakuinya.

6. Pembantaian 10 muslim dalam bis


Terjadinya kasus terburuk dan pemicu tragedi Ronghya adalah pembantaian terhadap 10 orang Muslim peziarah yang ada dalam sebuah bus di Taunggup dalam perjalanan dari Sandoway ke Rangoon pada tanggal 4 Juni.

7. Lemahnya penegakkan Hak Azasi Manusia di Myanmar


Salah satu tokoh penting Myanmar dalam penegakan Demokrasi adalah Aung San Suu Kyi. Wanita tangguh ini mendapatkan nobel perdamaian pada 1991 atas usahanya itu. Namun meskipun memiiki tokoh sekaliber pemenang nobel perdamaian, tidak membuat negara ini menjadi adil pada tiap-tiap warganya.

8. Keadaan negara yang dipimpin militer


Pemerintahan Myanmar dijalankan oleh junta militer. Yang mana pemerintahan dijalankan secara diktator dan apa yang tidak disukai oleh pemerintah akan diberangus. Seperti itu dengan keadaan para etnis rohingya. Kelompok masyarakat yang tidak mendapat pengakuan dari pemerintah itu harus mendapat diskriminasi hingga perlakuan buruk.

9. Faktor agama juga di sebut sebut ikut melatar belakangi terjadinya konflik


Terdapat asumsi bahwa budaya Rohingya dipengaruhi oleh ajaran Islam yang dianggap akan berbenturan dengan budaya Myanmar. Implikasi budaya Myanmar secara tidak langsung menciptakan ideologi yang diwarnai oleh Burmanization sebagai mayoritas. Ideologi ini kemudian berubah menjadi suatu praktik diskriminasi terhadap etnis minoritas muslim Rohingya yang di anggap akan mengancam budaya myanmar yang identik dengan agama budha.

Kemungkinannya, bagi Myanmar dalam mendiskriminasi warga muslim Rohingya merupakan sebuah perilaku yang tidak keliru dan sesuai dengan nilai-nilai budaya mereka. Sehingga pemerintah myanmar tidak peduli dengan saran dan kebijakan politik luar negeri untuk menghentikan tindakan anarkis Genosida terhadap minoritas muslim rohingnya.

Waktu dan Peristiwa Koflik Myanmar


Berikut adalah kronologi terperinci dari konflik yang terjadi antara kelompok Budha yang mayoritas dengan kelompok Muslim yang minoritas di Myanmar pada tahun 2012–2013.


  • 28 Mei 2012 Terjadi pemerkosaan dan pembunuhan terhadap seorang perempuan Rakhine Budha berusia 28 tahun yang diduga dilakukan oleh tiga orang laki-laki Muslim di Kota Ramri.
  • 3 Juni 2012 Terjadi pembunuhan terhadap 10 laki-laki muslim oleh sekelompok orang Rakhine Budha di dalam bus yang diduga memuat 3 pelaku pemerkosaan.
  • 10 Juni 2012 Presiden Thein Sein mengumumkan kondisi darurat di negara bagian Rakhine setelah terjadi bentrokan mematikan antara kelompok Budha dengan Muslim Rohingya yang menyebabkan 88 orang tewas dan lebih dari 90.000 lainnya mengungsi.
  • 12 Juli 2012 Presiden Thein Sein mengatakan kepada UNHCR bahwa Myanmar tidak akan bertanggung jawab terhadap “pelintas batas ilegal” Rohingya dan menganggap mereka sebagai ancaman terhadap keamanan nasional sehingga mereka harus dipindahkan ke negara-negara ketiga yang bersedia menerima mereka.
  • 18 Oktober 2012 Konferensi Solidaritas Para Biksu Arakan digelar dan menyebut para simpatisan Rohingya, termasuk mereka yang mengadvokasi perlindungan bagi hak asasi Rohingya, sebagai pengkhianat bangsa.
  • 21 Oktober 2012 Kekerasan sektarian kembali terjadi di 9 kota di negara bagian Rakhine dan menyebabkan 35.000 orang yang sebagian besar Muslim mengungsi.
  • 20 Maret 2013 Kekerasan komunal antara kelompok Budha dan Muslim kembali terjadi di Kota Meikhtila dan melebar ke beberapa wilayah di sekitarnya, menewaskan sedikitnya 40 orang dan membuat 12.000 orang lainnya lari mengungsi.
  • 20 Mei 2013 Otoritas pemerintah di Distrik Maungdaw, Rakhine mengeluarkan aturan pembatasan dua anak terhadap keluarga Rohingya.
  • 28 Mei 2013 Kekerasan anti-Muslim pecah di Lashio, negara bagian Shan. Kelompok Budha menghancurkan masjid, panti asuhan, dan bisnis (toko) milik orang Muslim, menyebabkan sedikitnya 14.000 orang Muslim mengungsi.
  • 14 Juni 2013 Konferensi Pemimpin Budha digelar di Yangon, memproposalkan hukum pernikahan antaragama yang melarang perempuan Budha menikah dengan laki-laki Muslim, termasuk perlunya izin dari otoritas pemerintah bagi laki-laki Muslim yang akan berpindah agama menajdi Budha.
  • 14 Juli 2013 Pengumuman pembubaran pasukan keamanan perbatasan (border security force) NaSaKa oleh Presiden Thein Sein. NaSaKa dituduh telah melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap orang-orang Rohingya, termasuk pembunuhan, penahanan, dan penyiksaan.
  • 20 Juli 2013 Status darurat di Meikhtila dicabut karena situasi disana dianggap sudah stabil.
  • 25 Agustus 2013 Kelompok Budha membakar lusinan rumah dan toko milik orang-orang Muslim di Kanbalu, Divisi Sagaing. Sumber: Global Centre for The Responsibility to Protect dan Human Right Watch (tanpat tahun)


Itulah pembahasan kita tentang Islam di myanmar dan faktor penyebab pembantaian besar besaran terhadap Muslim rohingnya. Smoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan kita.

Kebijaksanaan tidak tumbuh dengan serta merta.

Buka Komentar

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
EmoticonEmoticon