Tuesday, August 01, 2017

Holocaust dan Larangan Mengkritisi Tragedi Holocaust

Holocaust dan Larangan Mengkritisi Tragedi Holocaust

Tags

Holocaust dan Larangan Mengkritisi Tragedi Holocaust
Holocaust

Holocaust bagi sebagian pakar terkenal adalah kisah dusta besar yang diciptakan oleh orang-orang Zionis. Holocaust pasti Anda pernah membaca atau paling tidak mendengar tentang hal ini, tapi tahukah Anda, sebagian besar berita yang memberitakan Holocaust hanyalah propaganda semata.

Sejarah tentang kekejaman Hitler di masa Perang Dunia ll menyisakan banyak kisah pahit bagi sebagian orang. Tak terkecuali orang Yahudi, Hitler yang dikisahkan sangat membenci kaum Yahudi(yang telah merusak perekonomian negaranya) diceritakan telah banyak membantai kaum Yahudi.

Holocaust dan Larangan Mengkritisi Tragedi Holocaust
Kam Auschwitz Polandia

Dalam cerita mereka, Hitler disebut-sebut telah membantai 6 juta kaum Yahudi, jumlah yang sangat besar tentunya. Apakah Hitler benar-benar membantai kaum Yahudi sedemikian banyak? Jawabannya bisa benar dan salah.

Jawaban benarnya, memang, Hitler telah membunuh banyak orang Yahudi, dan jawaban salahnya adalah Hitler tidak membunuh orang Yahudi sebanyak itu. Ya, tidak 6 juta manusia, tetapi 'hanya' sekitar 200.000 sampai 300.000 orang. Bagaimana bisa seperti ini? lalu seperti apa bukti-buktinya, silakan dilanjutkan ke paragraf berikutnya.

Masyarakat dunia saat ini mulai sadar bahwa Holocaust yang sebenarnya bukan terjadi di Eropa pada masa perang dunia kedua dengan korbannya warga Yahudi, tetapi Holocaust sedang terjadi saat ini. Tempatnya adalah Palestina dan korbannya adalah bangsa Palestina. Pelakunya bukan Hitler, tetapi kaum Zionis.

Holocaust secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, holo berarti keseluruhan (whole) dan kaustos berarti terbakar/dibakar (burnt). Holocaust didefinisikan sebagai kerusakan besar yang terutama ditimbulkan oleh pembakaran, yang mengakibatkan tewasnya manusia dalam jumlah besar (klaim pihak Zionis: ada 6 juta Yahudi tewas akibat Holocaust).

Holocaust menjadi dalih utama atas klaim NEGARA KHUSUS YAHUDI HARUS DIBENTUK.

Fenomena Holocaust begitu penting bagi Zionis karena bisa menciptakan opini kemazluman orang-orang Yahudi.

Fiksi pembantaian enam juta warga Yahudi oleh Hitler merupakan permainan terpenting Zionis untuk menumbuhkan belas kasih masyarakat dunia kepada orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, mereka tidak akan menerima kritik dalam kaitan tragedi tersebut.

Direktur Lembaga Kebebasan Beropini di Kanada mengatakan, “Holocaust telah berubah menjadi sebuah keyakinan. Sebuah keyakinan dirancang untuk orang-orang selain Yahudi, dan siapa pun yang mengingkari tragedi itu akan ditindak seperti seorang yang murtad. Hal ini merupakan langkah yang salah dan menipu menurut akal dan logika. Profesor Robert Farison juga mnyatakan bahwa Holocaust merupakan bom nuklir Zionis.

Hal yang menarik, melalui kekuatan lobinya di Barat Zionis tidak mengizinkan siapa pun untuk menolak kisah tragedi Holocaust. Saat ini di AS dan Eropa, siapa pun tidak boleh menolak tragedi Holocaust, dan akan ditindak jika menolaknya.

Ketika AS dan Eropa melakukan propaganda dengan gencar dalam kaitan Holocaust, seorrang analis yang berasal dari Australia, Fredick Toban, menolak tragedi tersebut dan mendapat ganjaran penjara enam bulan.

Fredick Toban mengatakan, “Di Eropa, setiap orang bisa menghujat Yesus dan Maryam yang suci, namun tidak dapat mengkritik orang-orang Yahudi dan Holocaust. Sejumlah negara Eropa yang sudah cukup maju bersedia dalam perundangan-undangannya untuk mengatur para penolak Holocaust.

Berdasarkan undang-undang di AS dan Eropa yang bernama Gitto, siapa pun yang menolak Holocaust, akan terhitung sebagai orang yang anti Yahudi dan terkena hukuman. Perancis yang disebut sebagai negara kebebasan juga tidak terlepas dari belenggu kekuatan lobi Zionis, sehingga harus menerima undang-undang Fabius-Gayssot di tahun 1990.

Berdasarkan undang-undang tersebut, setiap orang yang menolak Holocaust dan meragukan kisah tentang terbantainya enam juta orang Yahudi di Eropa, akan dikenai hukuman penjara atau denda. Sikap itu yang tidak selaras dengan kebebasan berpendapat di negara-negara yang membela HAM dan kebebasan merupakan hal yang mengejutkan.

Pada saat yang sama, Barat merupakan negara-negara yang menghargai penelitian ilmiah dan logis, namun tetap akan menindak penentang Holocaust yang berargumentasi dengan bukti-bukti yang valid. Ancaman hukuman bagi para penentang Holocaust mengingatkan pengadilan-pengadilan di abad pertengahan yang menindak terhadap para penentang keyakinan gereja.

Pada prinsipnya, larangan keras tersebut ditujukan kepada para penentang, baik menolak maupun meragukan tergedi tersebut. Oleh karena itu, diantara dalih mempertanyakan dan meragukan Holocaust adalah adanya larangan yang kuat untuk menelaah lebih lanjut tragedi tersebut. Jika tragedi pambantaian enam juta warga Yahudi adalah sebuah realitas, tidak semestinya Zionis dan Barat khawatir dengan penelitian lebih lanjut atas tragedi Halocaust.

Tentu saja, kekhawatiran mereka ini membuktikan lemahnya argumentasi dan bukti atas tragedi Holocaust. Robert Forison menyatakan, “Sampai saat ini, mereka tidak dapat menjawab argumentasi penolakan kita atas kebenaran tragedi Holocaust, melainkan menyerang kita dengan menyeret kita ke pengadilan, menindak dan menyiksa.”

Oleh karena itu, para analis dan pemikir di Barat yang mengkritik Holocaust, sehingga menerima berbagai ancaman dan tekananan, yang setidaknya dihukum berdasarkan konstitusi miring mengenai Holocaust, menyandang sifat kesatria. Profesor Forison adalah wujud nyata yang berani bersikap kesatria untuk mempertanyakan tragedi Holocaust.

Forison yang berkewarganegaraan Inggris dan Perancis adalah seorang sejarawan yang melakukan penelitian tentang Holocaust selama bertahun-tahun, bahkan berhasil mendapatkan sejumlah data terlarang milik Zionis. Namun, ketika beliau mempertanyakan Holocaust dan menolak keberadaan ruangan gas yang ditulis dalam bukunya, “Ruangan Gas: Fiktif atau Nyata,” menyebabkan kemarahan Zionis dan Perancis.

Profesor Forison diberhentikan dari aktivitas mengajar di Universitas Lion di tahun 1978, dan menurut rencana akan diadili di bulan Juni karena wawancaranya dengan Televisi Sahar milik Republik Islam Iran dalam kaitannya dengan Holocaust. Horison dalam wawancara tersebut menyatakan, “Kami para penentang Holocaust tidak diberi hak untuk mencetak dan menyebarkan artikel dan buku. Mereka membakar buku-buku kami dan melarang penerbitannya di luar negeri.”

Profesor Roger Garaudy adalah sosok lain yang menolak kisah tentang Holocaust, sehingga diseret ke pengadilan. Karya besar Garudi yang berjudul “Mitos-mitos Pembangun Politik Israel” juga menghadapi penentangan keras dari kaun Zionis, karena buku tersebut mengungkap kebohongan tragedi Holocaust. Pada akhirnya, Garudi dijatuhi hukuman karena sikapnya menentang undang-undang Fabius-Gayssot. Lagi, kebebasan dan HAM menjadi korban kepentingan Zionis di Eropa.

Ernest Zundel, seorang peneliti asal Jerman masuk dalam daftar para penentang tragedi Holocaust. Sebelum hijrah ke AS, dia bermukim di Kanada. Akibat tekanan dan intimidasi kaum Zionis di Kanada, Zundel terpaksa meninggalkan negara itu. Di AS, kaum Zionis tetap mengejar Zundel, sehingga akhirnya dia ditangkap dan diekstradisi ke Jerman untuk diadili karena keyakinannya yang menentang mitos Holocaust.

Tak cuma kalangan peneliti sejarah yang kebebasan pendapatnya terbelunggu. Para anggota parlemen di Eropa juga tak berhak untuk menyuarakan pendapatnya yang menentang kisah pembunuhan massal warga Yahudi pada perang dunia kedua.

Bruno Gollnisch, anggota parlemen Eropa asal Prancis termasuk di antara mereka yang menentang kisah Holocaust. Katanya, “Seluruh kisah Holocaust adalah khanyalan otak kotor kaum Zionis.” Akibat pernyataannya itu, Gollnisch kehilangan kekebalan diplomatiknya sehingga memungkinkannya untuk diseret ke pengadilan.

Korban lain dari mitos Holocaust adalah David Irving. Ketenarannya sebagai sejarawan besar Inggris tidak mampu menelamatkannya dari penganiayaan yang dialaminya di Inggris dan negara-negara lain. Ketika berkunjung ke Austria beberapa waktu lalu, Irving dijerat dengan pasal tahun 1989 tentang Holocaust.

Irving hanyalah satu dari sederet ilmuan dan cendekiawan yang mengalami nasib buruk dan menyedihkan karena menentang mitos pembunuhan massal kaum Yahudi pada masa perang dunia kedua.

Germar Rudolf kimiawan Jerman, Doktor Frederick Toben asal Australia, Louis Marshalko asal Hungaria penulis buku the World Conquerers, Norman G. Finkelstein dosen universitas DePaul Chicago penulis the Holocaust Industry adalah contoh dari puluhan ilmuan dan cendekiawan tersebut.

Mitos Holocaust dimanfaatkan oleh kaum Zionis untuk mengejar kepentingannya di dunia, yang diantaranya adalah untuk membentuk sebuah rezim ilegal di tanah Palestina tahun 1948. Tak syak, tanpa mengumbar isu pembantaian massal umat Yahudi pada masa perang dunia kedua, kaum Zionis tak akan dengan mudah memaksa masyarakat dunia termasuk PBB untuk menerima kehadiran sebuah negara ilegal bernama Israel di negeri Palestina.

Frederick Toben dalam hal ini mengatakan, “Negara Israel dibentuk atas dasar kisah Holocaust. Oleh karena Holocaust adalah kisah bohong, berarti Israel dibangun di atas kebohongan besar.” Kelestarian Israel sangat bergantung pada keyakinan masyarakat Barat akan kebenaran kisah pembunuhan 6 juta warga Yahudi di Eropa oleh Hitler. Berkat kisah ini pula, Israel berhasil meraup ganti rugi yang tidak sedikit dari negara-negara Eropa terutama Jerman.

Frederick Toben


Toben menyatakan bahwa sepanjang sejarah, teknologi tidak saja menyediakan alat, tetapi juga memberikan keterbatasan. Keterbatasan teknologi adalah absolut, karena itu jika kesimpulan sejarah diambil berdasarkan aspek teknologi, hasilnya absolut juga. Sebagai contoh, sangat mudah untuk membuktikan apakah sebuah diary yang ditulis dengan tinta, yang diklaim berasal dari zaman perang (tahun 1940-1945), asli atau tidak. Bila analisis terhadap tinta menunjukkan bahwa jenis tinta itu baru dipasarkan tahun 1950, kita bisa menyimpulkan bahwa diary itu palsu.

Toben menganalisis masalah teknologi terkait dengan peristiwa Holocaust. Jika korban Holocaust diberi gas beracun dan dibakar, fasilitas pembakaran (krematorium) haruslah sepadan dengan klaim 6 juta jasad yang (katanya) dibakar itu. Toben menyampaikan, “Sangat menarik untuk dicatat bahwa pendukung Holocaust, Robert Jan van Pelt, menggunakan sebuah pernyataan yang disampaikan oleh mantan komandan kamp, Rudolf Höss, tahun 1947 saat disidangkan di Krakow, yang menunjukkan problem bila krematorium digunakan secara terus-menerus. Menurut Pelt, setelah 8-10 jam beroperasi, krematorium tidak bisa lagi digunakan lebih lama.”

Jika diasumsikan dalam sehari oven pembakar mayat bekerja 9 jam, dan satu oven hanya bisa membakar 3 jasad dalam satu jam, berarti pada Krema II satu oven mengkremasi 9 x 3 jasad= 27 jasad per hari. Di Krema II ada 5 oven, sehingga dalam sehari, krematorium ini bisa membakar 135 jasad (27 x 5). Krema III memiliki kapasitas yang sama, sehingga dalam sehari ada 135 x 2 = 270 jasad yang dibakar oleh Krema II and Krema III. Sementara itu, Krema IV dan V masing-masing bisa membakar 8 jasad sejam, berarti ada 72 jasad x 2=144 jasad yang bisa dibakar dalam sehari.

Karena itu, di kamp konsentrasi Auschwitz II yang mempunyai 4 krematorium (Krema II – V) seharinya dibakar 270 + 144 = 414 jasad (dengan asumsi bahwa keempat oven yang ada bekerja sempurna tanpa pernah rusak). Data menyebutkan bahwa krematorium itu beroperasi selama 2.367 hari, tetapi oven-oven bekerja hanya selama 1.164 hari. Artinya, hanya ada 481.896 jasad yang bisa dibakar pada era itu.

Anehnya, segera setelah perang usai, komite penelitian Soviet menyebutkan bahwa ada 4 juta Yahudi tewas di Auschwitz. Dan angka ini, entah bagaimana prosesnya kemudian membengkak jadi 6 juta.

Roger Garaudy


Garaudy adalah penulis buku “The Founding Myths of Modern Israeli” (1995). Garaudy mengutip Fred Leuchter, insinyur dari AS. Menurut Leuchter, pemberian gas Zyklon B (bahan aktifnya: hidrogen sianida) membutuhkan ventilasi yang sangat minim sampai 10 jam setelah penggunaan, tergantung pada dimensi ruangan (tempat dilakukannya pemberian gas).

Ruangan itu haruslah kedap udara, dan pintunya harus memiliki sendi-sendi yang terbuat dari asbes, neophrene, atau teflon. Di AS, hidrogen sianida juga digunakan untuk membunuh tahanan yang divonis mati, namun ruangan yang digunakan untuk membunuh satu orang (saja) itu terbuat dari baja dan kaca, dilengkapi dengan mesin yang cukup kompleks untuk berjaga-jaga bila ada kejadian di luar prosedur.

Leuchter telah mengunjungi tempat yang disebut sebagai ‘kamar gas’ di Auschwitz-Birkenau dan di kamp-kamp lainnya, dan dia menemukan fakta-fakta antara lain, Krema I berdiri di sebelah rumah sakit SS di Auschwitz dan memiliki saluran air yang terhubung dengan sistem pembuangan utama kamp (konsentrasi Yahudi), sehingga gas beracun pasti akan masuk ke seluruh ruangan kamp itu. Leuchter pun menyimpulkan bahwa ruangan-ruangan yang disebut-sebut sebagai “kamar-kamar gas” itu sama sekali bukanlah kamar gas untuk pembunuhan.

UU Anti Revisionis


Tahun 1986, sebagian propagator Holocaust mulai menyadari bahwa mereka tidak mampu menjawab argumen para revisionis, bahkan pada masalah-masalah sederhana sekalipun, lalu mereka mulai menggalang dukungan untuk diberlakukannya UU anti revisionis.

Tanggal 13 Juli 1990, UU itupun disahkan dengan nama “Fabius-Gayssot Law”. Dalam UU ini disebutkan bahwa segala bentuk keraguan terhadap peristiwa Holocaust, baik berupa keraguan terhadap adanya Holocaust itu sendiri, atau keraguan atas jumlah korban (yaitu 6 juta orang) dalam peristiwa itu, atau keraguan tentang adanya kamar gas NAZI untuk membunuhi orang Yahudi, dinilai sebagai tindakan kriminal dan dijatuhi penjara antara 1 bulan hingga 1 tahun serta denda 2000-3000 Frank. Atas tekanan lobby Zionis, UU serupa juga disahkan di Inggris, AS, dan negara-negara Eropa lainnya.

Garaudy dan Faurisson adalah dua sejarawan yang menjadi korban UU ini, mereka dipenjara dan dijatuhi denda akibat tulisan mereka yang merevisi Holocaust.

Pertanyaan Ahmadinejad


“Jika tragedi ini (Holocaust) terjadi di Eropa, mengapa bangsa Palestina yang harus menebusnya? Apa dosa bangsa Palestina? Mereka tidak memiliki peran dalam Perang Dunia II, lalu mengapa dengan dalih peristiwa itu, lebih dari 5 juta orang Palestina diusir dan mereka hidup dalam pengungsian selama 60 tahun?” (diucapkan Ahmadinejad dalam wawancara dengan Council on Foreign Relations di AS).

LALU UNTUK APA KAUM ZIONIS MEMPROPAGANDAKAN TRAGEDI HOLOCAUST


Sesuai cita-cita kaum mereka di dalam protocol of zionis , mereka harus mampu menguasai dunia dan untuk itu dibutuhkan suatu tempat pemerintahan, ya, negara baru, Israel.. Dengan menyebarkan berita fiksi holocaust tersebut mereka 'mengemis' dengan penuh memelas agar diberi secuil tanah untuk berdirinya 'negara' mereka. Dan akhirnya berdirilah sebuah negara kecil bernama Israel di tanah Palestina di sekitar tahun 1946. Ingat juga tahun berapa PD II berakhir, sangat berhubungan bukan.

Download soft file buku Ahmadinejad on Palestine

Kebijaksanaan tidak tumbuh dengan serta merta.

Buka Komentar

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
EmoticonEmoticon