Wednesday, March 08, 2017

Khalid bin Walid Panglima Perang Tak Terkalahkan

Khalid bin Walid Panglima Perang Tak Terkalahkan

Tags

Khalid bin Walid Panglima Perang Tak Terkalahkan
Khalid bin Walid

Khalid bin Walid, adalah seorang panglima perang pada masa pemerintahan Khulafa ArRasyidin yang termahsyur dan ditakuti di medan perang serta dijuluki sebagai Saifullah Al-Maslul (pedang Allah yang terhunus). Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang kariernya.

Khalid bin Walid (592–642), lahir sekitar tahun 592, ayahnya bernama Walid bin al-Mughira seorang kepala suku dari banu Makhzum (bangsa Quraisy). Di saat itu banu Makhzum bertanggung jawab terhadap masalah perang, mengurus persenjataan dan tenaga tempur. 

Sesaat setelah dilahirkan, Khalid dikirim ke suku Badui di gurun di mana udaranya masih bersih, segar dan belum terpolusi. di usia lima atau 6 tahun, ia kembali ke Mekah. Di masa kanak-kanak tersebut Khalid juga pernah terserang cacar ringan yang mengakibatkan timbulnya bekas cacar (bopeng) dipipi kirinya.

Khalid bin Walid dan Umar bin Khattab adalah saudara sepupu dan memiliki kemiripan wajah. Keduanya sangat tinggi, Khalid memiliki tubuh yang kuat, bahu yang lebar, badan yang kekar juga berjenggot penuh dan tebal di wajahnya.

Khalid bin Walid (Khalid anak al-Walid, Anak abadi dari yang baru terlahir) berasal dari Suku Quraisy, klan yang melawan Rasulullah SAW. Dia memiliki peran vital dalam kemenangan orang Mekkah sewaktu Pertempuran Uhud melawan orang Muslim. Dia menjadi Mualaf dan masuk Islam, bergabung bersama Rasulullah SAW setelah terjadinya Perjanjian Hudaibiyyah serta berpartisipasi dalam berbagai ekspedisi untuk Umat Muslim, seperti Pertempuran Mu'tah. 

Ini merupakan pertempuran pertama antara orang Romawi dan Muslim. Khalid bin Walid melaporkan bahwa pertempuran tersebut amatlah sengit sampai-sampai dia menggunakan sembilan pedang, yang kesemuanya patah dalam pertempuran tersebut. Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, dia dapat peran yang penting memimpin pasukan Madina untuk Abu Bakar dalam Perang Ridda, menaklukan Arabia tengah dan menaklukan suku-suku Arab. 

Dia menaklukkan Negara Satelit Arab Sasanid yaitu Al-Hirah, sertah mengalahkan Pasukan Sasanid Persia dalam penaklukan Irak (Mesopotamia). Dia nantinya digeser ke front Barat untuk menaklukkan Siria Romawi dan Negara Boneka Bizantium Arab yaitu Ghassanid.

Keperkasaan dan kejeniusan strateginya dalam bertempur membuatnya menyandang gelar (pedang Allah yang terhunus). 

Tak kurang dari seratus kali pertempuran berhasil ia menangkan. Pencapaian terbesarnya ialah memimpin pasukan jihad dalam Penaklukan Arab, Persia Mesopotamia, dan Suriah Romawi, hanya dalam waktu empat tahun, pada tahun 632M hingga 636 M. 

Dunia mengenangnya karena berhasil memenangkan Islam pada Pertempuran Yamamah, Pertempuran Ullais, Pertempuran Firaz, juga kesuksesan taktis pada Pertempuran Walaja, serta Pertempuran Yarmuk.

Kejeniusannya dalam strategi perang amat terkenal bahkan sebelum ia masuk Islam. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Khalid diamanahkan untuk memperluas wilayah Islam dengan berhasil mengalahkan pasukan Romawi dan Persia. Pada tahun 636 M, kekuasaan Islam terentang hingga keluar Jazirah Arab dengan sangat cepat.

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit.

Namun pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA, Khalid diberhentikan, dan dialihkan tugasnya menjadi duta besar. Hal ini dilakukan oleh Umar RA, dengan maksud agar kaum Muslimin tidak mengultuskan Khalid, dan berfikir bahwa berbagai kemenangan yang diperoleh selama ini dikarenakan Khalid, padahal semata-mata karena pertolongan Allah SWT.

Pesan Khalid bin Walid sebelum wafat, 

“Aku telah mengejar kematian di tempatnya tapi aku tidak ditakdirkan untuk mati kecuali di atas kasurku. Tak ada satu amal pun yang lebih aku harapkan setelah kalimat La ilaha illAllah selain satu malam yang aku lalui dalam keadaan siaga sementara langit mengguyurkan hujannya sampai pagi. Kemudian pada pagi harinya kami melancarkan serangan terhadap kaum kafir”

Demikianlah kisah hidup seorang ksatria Islam, Khalid bin Walid radhiallahu 'anhu. Semoga kita bisa meneladani perjuangannya.

Kebijaksanaan tidak tumbuh dengan serta merta.

Buka Komentar

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
EmoticonEmoticon