Wednesday, December 21, 2011

Puisi Sepucuk Surat Dimalam Rabu

Puisi Sepucuk Surat Dimalam Rabu

Tags

Sepucuk Surat Dimalam Rabu
Puisi

Nyanyian ridu, seketika menorehkan luka, luka karna cemburu perih, itulah yang ku rasa. Aku bukan tidak percaya dengan penjelasan mu, aku bukan mengekang kebebasan mu. Namun aku terlalu menginginkanmu

Satu tahun aku mengenalmu, satu tahun kita lalui bersama, sudah terurai kenangan manis yang berawal dari pertemuan di pinggir jalan di saat hujan mulai reda.

Masihku ingat senyum di bibirmu ketika kita berjabat tangan. Disitulah aku jatuh hati padamu dan kaupun menjadi yang pertama singgah di hati ini.

Maafkan aku jika memang sudah bersikap salah, tak ada maksud mengapa cuma rindu yang buat cemburu buta. Malam ini ku tulis surat padamu dalam gundah sepi tanpamu.

Aku sadar mungkin untuk bersatunya cinta ini suatu hal yang mustahil kita lalui, tapi kau akan selalu ada didalam hatiku dan akupun rela walau hanya sebagai pengagum gelapmu.

Memang ku akui aku sayang padamu hari ini ataupun limapuluh tahun lagi titip rinduku.

Kebijaksanaan tidak tumbuh dengan serta merta.

Buka Komentar

2 komentar

Karena kehadiran lelaki itu yang membuka lebar luka di hatinya, meskipun perih Jejung tetap bersyukur.

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
EmoticonEmoticon