Monday, May 16, 2011

Syair Renungan Hidup

Syair Renungan Hidup

Tags

Syair Renungan Hidup
Puisi

Disaat renungan datang, Seketika air mata ini turun mengalir dan jatuh menetes d bantal kusam. Bukan berarti sebuah penyesalan yang ku tangisi, nanun sebuah kerinduan yang teramat dalam kepada sang qhalik.

Begitu kerasnya hati ini membatu bersama fatamorgana duniawi, Aku tak mau terus menerus menerobos pilar pilar Mu, terus menerus kalu, berpura pura lugu dengan tingkah yang tak menentu.

Dalam kerinduan sujud ku di atas sajadah suci, kuhanya mampu meminta dan meminta padamu Tuhan, bersama deraian air mata aku malu, malu pada MU.

Tuhan bangunkanlah aku jikala diri ini terjatuh, ingatkanlah disaat diri ini lupa, tuntunlah langkah ini menuju jalan yang engkau ridhoi. Jadikanlah aku hamba hamba Mu yang taat dan slalu bersyukur atas rahmad dan karunia Mu.

Rindang daun pohon mengkudu,
berbuah lebat jadikan obat,
syair di ucap ungkapan rindu,
itulah obat paling mujarat.

Kebijaksanaan tidak tumbuh dengan serta merta.

Buka Komentar

2 komentar

sajak pantun nan indah. terima kasih, sebab berkahlah

Makasih sudah mau mampir, salam kenal..

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
EmoticonEmoticon