Tuesday, December 18, 2018

Diskriminasi Dan Penindasan Terhadap Minoritas Etnis Uighur Di China

Komunis cina menindas muslim uighur
Diskriminasi Terhadap Muslim Uighur

Minoritas Uighur menjadi sorotan dunia, Suku Uighur adalah salah satu suku minoritas resmi di Republik Rakyat Tiongkok. Suku ini merupakan keturunan dari suku kuno Huihe yang tersebar di Asia Tengah, menggunakan bahasa Uighur dan memeluk agama Islam. 


Keberadaan Muslim Uihur Di Xinjiang Cina


Etnis Uighur merupakan kelompok etnis minoritas terbesar di Cina, dengan jumlah kurang lebih sebesar 9,65 juta jiwa dan menduduki wilayah otonomi yang terbesar di Cina, yaitu Xinjiang, Uighur Autonomous Region. Xinjiang berbatasan dengan delapan negara seperti  Mongolia, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, dan India. 

Munculnya bangsa Uighur diperkirakan pada awal abad 18. Etnis Uighur menganut agama Islam dengan tradisi-tradisi Sufi. Agama Islam Sunni yang merupakan agama suku Uighur memiliki karakteristik yang sama dengan Turki.

Islam Sunni ditandai dengan berdirinya empat sekolah filsafat keagamaan (fiqh) yang didirikan pada abad ke-7 dan ke-8 dan menitikberatkan pada pelajaran-pelajaran moral dan agama di dalam masyarakat. Islam Sunni meluas hingga dinasti Mughal dan kekaisaran Ottoman, menyebar dari Asia Tengah hingga sub benua India, kepuluauan Indonesia. 

Agama Islam adalah bagian penting dari kehidupan dan identitas etnis Uighur. Bahasa mereka terkait dengan bahasa Turki, secara kultural etnis Uighur lebih dekat dengan negara negara di Asia Tengah ketimbang Cina. Di kota Xinjiang Kini terdapat sekitar 400 masjid di Urumqi, pusat kota di Xinjiang dan terdapat China Islamic Institute yang di dalamnya mengajarkan agama Islam dengan kurikulum yang berasal dari Asosiasi Islam Cina. 


Xinjiang awalnya sudah mendeklarasikan kemerdekaan dengan nama Turkestan Timur. Tapi tak lama usia kemerdekaan itu di tahun yang sama, Xinjiang secara resmi menjadi bagian dari Republik Rakyat Cina yang berhaluan komunis.  

Diskriminasi Dan Penindasan Terhadap Etnis Muslim Uighur. 


Penindasan yang terjadi pada minoritas etnis muslim Uighur di xinjiang menjadi sorotan dunia. Etnis muslim Uighur punya nasib mirip dengan etnis muslim Rohingya yang mendapat perlakuan penindasan genosida oleh negaranya. Mereka minoritas muslim mengalami diskriminasi di negara tempat mereka tinggal. Perbedaan etnisitas antara Uighur dan Han yang ada di Cina menjadi pemicu adanya diskriminasi dan kerusuhan.

Etnis Han 


Suku Han merupakan mayoritas dari rakyat tiongkok. Suku Han ini mendapat namanya dari dinasti Han. Han digunakan untuk menyebut bangsa Tiongkok sejak lama karena kejayaan Dinasti Han tersebut, yang memerintah Tiongkok selama 400 tahun lebih, meletakkan banyak dasar bagi perkembangan kebudayaan, identitas kebangsaan dan nasionalisme, ekonomi dan politik. 

Etnis Uighur


Sementara suku Uighur identitasnya lebih dekat dengan bangsa Turki. Etnis Uighur berasal dari salah satu etnis Proto-Turki yang mendiami Asia Tengah. Mereka memiliki kesamaan budaya, sejarah dan agama dengan etnis-etnis Turki lain yang mendiami Asia Tengah hingga Republik Turki. Kedekatan mereka berasal dari adanya keturunan yang sama. 

Konflik Etnis Han Dan Etnis Uighur Di Cina


Perbedaan etnisitas antara Uighur dan Han yang ada di Cina inilah awal menjadi pemicu adanya diskriminasi dan konflik. Tekanan demi tekanan yang dilakukan oleh pemerintah Cina terhadap Uighur, terutama terkait dengan migrasi suku Han ke wilayah Xinjiang menciptakan suatu sensitifitas yang tinggi di antara etnis Han dan etnis Uighur. 

Tak hanya itu aparat komunis Cina juga menuding muslim Uighur terkait al-Qaida. Uighur dianggap menggerakan kerusuhan, sementara aktivis etnis Uighur mengatakan kebijakan komunis Cina menjadi sumber masalah konflik. Muslim Uigur dilarang untuk beribadah hak-hak mereka sebagai warga dibatasi berbeda perlakuan dengan etnis Han yang merupakan mayoritas suku tiongkok. Jati diri muslim etnis Uighur di Xinjiang memang sudah menjadi masalah bagi penguasa Cina sejak pemerintahan cina nasionalis komunis ada.


Tekanan demi tekanan yang dilakukan oleh pemerintah komunis Cina terhadap etnis muslim Uighur dan banyaknya korban yang jatuh dalam setiap kerusuhan memunculkan reaksi dari publik terutama pemerintah Turki. Hal ini dilandasi oleh kedekatan etnis dengan Uighur, sehingga Turki bereaksi keras terhadap tragedi tersebut. Publik Turki sempat melakukan demonstrasi di Ankara dan Istanbul. Bahkan hubungan antara Turki dengan Cina sempat memanas. 

Berdasarkan laporan investigasi UN Committee on the Elimination of Racial Discrimination dan Amnesty International and Human Rights Watch pada bulan Agustus, menyatakan sekitar dua juta warga Uighur ditahan otoritas Cina di penampungan politik di Xinjiang. 

Sejumlah orang Uighur yang pernah merasakan dijebloskan ke kamp konsentrasi itu mengaku dipaksa mempelajari propaganda Partai Komunis Cina setiap hari. Bahkan beberapa mengaku disiksa. 

Menurut pernyataan 270 orang akademisi konon etnis Uighur yang tidak mengikuti seluruh pendidikan politik ala pemerintah komunis Cina. Akan dipukuli, dimasukkan ke sel, atau dihukum dengan cara menekan kejiwaan, disiksa melanggar norma agama dan kemanusiaan. 


Pemerintah komunis Cina dikenal selalu berlaku diskriminatif terhadap wilayah Xinjiang dan etnis Uighur yang memeluk Islam. Mereka kerap memberlakukan aturan tak masuk akal, seperti melarang puasa saat Ramadhan, dilarang menggelar pengajian, hingga salat berjamaah. Bahkan aparat Cina secara ketat menempatkan pos-pos pemeriksaan di seluruh wilayah hingga perbatasan Xinjiang.

Saturday, December 08, 2018

Memahami Tentang Perbedaan Elektabilitas Dan Kepopuleran

Pengaruh elektabilitas dalam pemilu
Elektabilitas

Sobat rancax pasti sering mendengar kata elektabilitas bukan ?. Apalagi menjelang pemilu berbagai media sibuk membahas elektabilitas para calon kandidat yang akan berlaga dalam kontestasi pemilu. Calon ini elektabilitasnya naik, calon yang itu elektabilitasnya turun pasti itu yang selalu dibahas.


Mungkin bagi kita masyarakat awam, tentu tidak paham apa itu elektabilitas kenapa sering dibahas saat masa-masa pemilihan umum saja. Atau mungkin dalam pandangan awam kita malah mengartikan elektabilitas sama artinya dengan popularitas. Pendapat ini hampir mendekati, tetapi maknanya tidak sesederhana itu loh sobat rancax.

Mari kita uraikan apa itu elektabilitas dan sepenting apakah elektabilitas itu sebetulnya. Elektabilitas adalah tingkat keterpilihan yang disesuaikan dengan kriteria pilihan. Elektabilitas bisa diterapkan kepada barang, jasa maupun orang, badan atau partai.

Elektabilitas memang sering dibicarakan menjelang pemilihan umum. Jika orang membahas tentang Elektabilitas suatu partai politik misalnya berarti, maksudnya tingkat keterpilihan partai politik tersebut di publik. Elektabilitas suatu partai sedang tinggi berarti maksudnya partai tersebut memiliki daya pilih yang tinggi.

Untuk meningkatkan elektabilitas maka objek elektabilitas harus memenuhi kriteria keterpilihan dan juga kepopuleran. Objek yang dimaksut seperti yang sudah kita bahas diatas misalnya objek tersebut berupa barang, jasa maupun orang, badan atau partai.


Orang yang memiliki elektabilitas tinggi adalah orang yang dikenal baik secara meluas dalam masyarakat. Misalnya ada orang baik, yang memiliki kinerja tinggi dalam bidang yang ada hubungannya dengan jabatan publik yang ingin dicapai, tapi karena tidak ada yang memperkenalkan maka orang tersebut menjadi tidak elektabel. 

Sebaliknya, orang yang berprestasi tinggi dalam bidang yang tidak ada hubungannya dengan jabatan publik, boleh jadi mempunyai elektabilitas tinggi karena ada yang mempopulerkannya secara tepat. 

Dalam masyarakat, memang sering diartikan, orang yang populer dianggap mempunyai elektabilitas yang tinggi. Sebaliknya, seorang yang mempunyai elektabilitas tinggi adalah orang yang populer. Popularitas dan elektabilitas sebetulnya tidak selalu berjalan seiring. 

Adakalanya seseorang yang populer malah tidak di sukai publik dan peluang keterpilihanya (elektabilitasnya) malah rendah. Idealnya antara profesionalitas dan kepopuleran berjalan baik seimbang baru elektabilitas akan tinggi.

Contoh sederhananya misal seorang Artis mencalonkan diri jadi anggota dewan. Yang namanya artis sudah pasti populer bukan ?. Tapi, elektabilitasnya belum tentu tinggi, maksudnya tingkat keterpilihanya di mata publik untuk jadi anggota dewan belum tentu tinggi. 

Contoh di atas biasanya berlaku bagi pemilih yang cerdas karena pemilih yang cerdas mempertimbangkan banyak faktor tak sekedar popularitas dari calon yang akan dipilihnya saja. 

Namun jika pemilih yang tidak cerdas biasanya memilih berdasarkan popularitas calon saja, mereka tidak memperdulikan faktor lainya sehingga calon yang hanya modal kepopuleran berpeluang besar untuk dipilih oleh pemilih yang tidak cerdas.

Didalam kontestasi pemilu para kandidat calon berlomba-lomba menaikan elektabilitasnya tujuanya supaya peluang untuk terpilih menjadi lebih tinggi. Untuk itu saat pemilu diadakanlah kampanye. Kampanye positif yang dilakukan biasanya membawa visi misi dan program yang ditawarkan oleh masing-masing kandidat calon. 

Disaat berkampanye para kandidat calon memperkenalkan dirinya kembali, untuk menarik simpati serta dukungan publik. Jika metode kampanye yang dipakai tepat sasaran, serta visi misi yang ditawarkan menarik. Maka, elektabilitas calon tersebut akan naik dan tingkat keterpilihanya semakin tinggi. 


Kampanye memiliki tujuh variabel yang akan dilihat seberapa besar pengaruhnya terhadap elektabilitas. Sedangkan Elektabilitas juga memiliki tujuh variabel yang tiap-tiap variabel ini membuktikan seberapa besar elektabilitas akan diperoleh. 

Berikut Skema Sederhana Dari Elektabilitas Yang Baik


  1. Popularitas 

  2. Ketertarikan Publik 
karakter calon dimata publik 
  3. 
Pengaruh terhadap pilihan publik 

  4. Keterpilihan publik 
kelayakan dimata publik 

  5. Keyakinan masyarakat terhadap pasangan calon. 

Setelah ulasan singkat diatas sobat rancax sudah menjadi lebih tau bukan ?. Kita sebagai pemilih yang memiliki hak suara jadilah pemilih yang cerdas. Jangan terlena dengan calon kontestan pemilu yang hanya bermodal kepopuleran saja. Tapi kita sebagai pemilih yang cerdas pertimbangkan juga faktor lainnya sehingga dia layak untuk mendapat suara kita. 

Misalnya profesionalitas yang dimiliki calon kandidat tersebut. Visi misinya seperti apa dan program-program yang ditawarkannya harus menjanjikan. Ingat bukan janji sekedar janji ya ! Perhatikan keseriusanya dalam menawarkan janji manis. Jangan sampai setelah dipilih janji tinggal janji yang merana ya kita sebagai pemilih tentunya.

Friday, December 07, 2018

Lahirnya Momentum 212 Menuntut Keadilan Membawa Persatuan Umat

Bangkitnya umat islam di indonesia
Reuni Akbar 212


Suasana reuni 212 memang banyak meninggalkan memori haru biru bagi masing-masing peserta. Bagaimana tidak acara yang kini menjadi agenda tahunan digelar setiap tanggal 2 Desember itu, dihadiri jutaan umat di Indonesia dari berbagai penjuru nusantara. 


Mereka datang beramai-ramai dengan biaya sendiri untuk menyuarakan keadilan saling menjaga silaturahmi dan persaudaraan sesama anak bangsa. 

Cikal Bakal Lahirnya Momentum 212






Aksi 212 lahir sejak 2016 lalu, yang diawali tindakan penistaan terhadap kitab suci Al-Quran yang dilakukan Basuki cahaya purnama (Ahok) saat menjabat sebagai gubernur Jakarta 2016 silam.

Penyelesaian kasus penistaan tersebut saat itu, dirasakan umat islam indonesia tidak berkeadilan. Bahkan terkesan dilindungi penguasa. Hal inilah yang kemudian mematik protes besar dari umat muslim Indonesia untuk melakukan Aksi damai meminta ditegakannya keadilan terhadap kasus ini.


Aksi damai yang dilakukan di lapangan Monumen Nasional (Monas), sebetulnya sudah terjadi sebelumnya beberapa kali, namun jumlah masa masih sedikit sekitar ratusan ribu orang. Sayangnya aksi protes yang selalu dikomandoi Habib Riziq Sihab dan beberapa ulama lainya itu dianggap angin lalu oleh penguasa. 

Sehingga, puncaknya dilaksanakan kembali aksi ke 3 pada tanggal 2 Desember 2016 yang tercatat lebih kurang dihadiri 7 juta orang. Masa tumpah ruah berkumpul di lapangan Monas. Bahkan memadati badan jalan disekitar kawasan Monas Jakarta. 

Para peserta aksi masih membawa agenda yang sama menuntut keadilan ditegakan atas penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok, dan dihentikanya kasus-kasus sosial lain yang dianggap suatu kriminalisasi pada ulama dan aktifis. 

Umat islam yang berkumpul melakukan aksi damai dan beribadah bersama di lapangan Monas Jakarta. Moment inilah yang kemudian dikenal dengan aksi damai 212.

Simak Video Berikut Umat Beramai-ramai menuju Monas Jakarta menghadiri acara reuni 212.



Puncak dari aksi 212 pada tahun 2016 lalu berhasil menuntut Ahok untuk diadili atas penistaan Al-Quran yang telah dilakukanya. Sehingga Ahok yang saat itu masih menjabat sebagai gubernur Jakarta dan seorang petahana yang juga sudah kalah dalam pilgub Jakarta periode berikutnya. Diganjar hukuman 2 tahun penjara oleh pengadilan jakarta atas penistaan yang ia lakukan dan ditahan di mako brimob kelapa dua depok. 

Aksi Damai 212 Menjadi Event Tahunan 






Selesainya kasus penistaan yang dilakukan oleh Ahok ternyata tidak meredam kebencian sekelompok orang terhadap umat islam di indonesia. Banyaknya isu miring yang kian kecang dihembuskan bahkan, tudingan anti kebinekaan, anti pancasila, radikal, intoleran berembus kencang pada umat islam tanah air. 

Terakhir pada Hari Santri Nasional 2018 lalu Simbol Islam Bendera Tauhid dibakar sekelompok orang dan di viralkan dimedia sosial.

Fitnah dan Tudingan negatif dari sekelompok orang pada umat muslim semakin menjadi-jadi, fitnah inilah yang ingin di bantah oleh umat islam di Indonesia. 

Diadakanya agenda 212 yang kini menjadi agenda tahunan. Awalnya memang untuk menuntut keadilan, namun saat ini juga bertujuan untuk membuktikan bahwa umat islam Indonesia cinta damai, bersahaja, bersih, tertip, aman dan toleransi. Tidak seperti fitnah yang beredar yang selalu dihembuskan kelompok anti agama islam.

Terbukti setiap kali mengadakan aksi dengan masa berjumlah jutaan orang suasana lokasi tetap kondusif, aman, tertip, bersih, bersahaja, damai, toleransi bahkan tanaman dan rumputpun tidak ada yang rusak.

Aksi 212 ini banyak mendapatkan simpati dari berbagai kalangan. Agenda meminta keadilan yang awalnya disuarakan umat islam. Membawa suasana haru tersendiri bagi banyak orang. Bahkan, karna banyaknya jumlah masa 212 yang hadir tiap tahunya hingga event ini mendapat sorotan dari berbagai media luar negri. 

Bagaimana tidak para peserta yang hadir tiap tahunya semakin beragam. Mereka berasal dari berbagai daerah dengan bermacam suku, latar belakang budaya, bahkan dari lintas agama juga ikut hadir berbaur menyuarakan keadilan, perdamaian dan persatuan.

Kini Aksi Damai 212 yang diawali pada Desember 2016 lalu, telah menjelma menjadi momentum persatuan umat di indonesia, dengan nama reuni 212 yang kian disenangi rakyat Indonesia.

Sekilas Kisah Dari Peserta Reuni 212 






Banyak cerita menarik dan mengharu biru yang selalu dibawa oleh setiap peserta setelah selesai acara 212 (Saat ini lebih dikenal dengan reuni 212). Berikut ada sebuah tulisan dari seorang peserta reuni 212 Siem Mei Hwa yang berasal dari etnis tionghoa beragama non muslim. 

Tulisan "Siem Mei Hwa" 

Awalnya aku hanya ingin tahu dan ingin melihat saja. Tentang reuni 212 yang katanya di hadiri jutaan manusia. Pukul 6.00 aku berangkat dari Depok menuju Monas. Titik tempat berkumpulnya alumni 212.

Jam 7 kurang aku sudah sampai, Aku terkejut dan takjub, karena memasuki bunderan HI manusia sudah berjubel.
Mobilku pun berjalan merayap di antara jamaah yang rata-rata berbaju dan berpeci putih. Mereka begitu ramah mempersilahkan mobilku lewat.

Namun aku tak bisa meneruskan, karena sudah tidak bisa masuk lebih jauh lagi dan jalan sudah di padati manusia. Seorang jamaah dengan sopan bertanya padaku 

", mau kemana Bu..!?",
", Mau cari parkir pak", 

jawabku tersenyum.

", Ibu mutar ke kanan terus lurus lebih kurang 100 m dari sini ada tempat parkir di halaman gedung itu, masih bisa parkir ", 

katanya santun sekali. 

Setelah berjalan terseok akhirnya sampai juga aku di gedung yang di tunjukan bapak tadi.

Selesai memarkir aku dan keluargaku keluar dari halaman gedung. Aku terkejut bahkan terperangah. Karena jalan sudah penuh sesak dengan lautan manusia. Mereka kompak tanpa di komando membaca sholawat dan mengibarkan ratusan bendera tauhid berwarna warni.

Aku tahu bendera tauhid dari dunia sosmed. Aku dan keluargaku pesimis, apakah mereka menerima kami untuk ikut nimbrung. Ataukah sebaliknya mrk akan mengusir kami.

Dan aku pun berpikir bagaimana bila terjadi rusuh...!?.
Dalam situasi yang pesimistis dan kebimbangan.

Tiba-tiba beberapa jamaah menghampiri kami, dan memberikan topi yang bertulisan tauhid. Dan anggota keluarga ku pun di berikan beberapa slayer. Kami di persilahkan ikut bergabung.

Rasa euporia menghinggapi keluarga.
Kami rela berdesakan dengan orang lain yang tak saling mengenal tapi jiwanya ada rasa kebersamaan. Akupun tak dapat menahan tangis haru begitu juga anggota keluarga ku.

Jutaan rasa yang menghinggapi kami membuat aku terisak. Beberapa jamaah memberikan tisue kepadaku. Aku mengusap air mataku, belum pernah perasaan ini berkecamuk sebegitu dahsyatnya.

Rasa takjub dan bangga belum pernah aku lihat manusia sebanyak ini begitu tertib...!
Puji Tuhan...!!!
Ini sungguh luar biasa Apalagi saat mendengar lantunan sholawat yang begitu kompak. Tak henti hentinya aku mengusap air mata yang menggenangi mataku.

Setelah berjalan sekian puluh meter. Aku bertemu dengan rekan-rekan yang ku tahu mereka adalah non muslim. Rupanya mereka merasakan hal yang sama denganku. Dan aku semakin lebih takjub, karena banyak yang non muslim pun berdatangan.

Ikut membaur dengan para jutaan jamaah. Mereka pun tak membedakan kami, kami dapat snak dan minuman seperti jamaah yg lain. Mereka memandang kami sebagai saudara. Yang lebih mengharu birukan seorang nenek tua memelukku sambil menangis memberikan sebungkus nasi uduk.

Tuhanku...!

Rasanya lutut ini lemas tak berdaya. Air mata ini semakin deras membanjiri ku. Begitupun yang menyaksikan peristiwa ini. Mereka seakan terbawa arus yang ku alami.

Aku yang tadinya sempat menilai negatif thinking tentang ini semua.
Jadi mendapatkan suatu nilai moral yang luar biasa. Aku dan keluarga besarku yang biasa dengar Pasteur khotbah di gereja, atau denger Bhikkhu di vihara.

Tak pernah sampai seharu ini...!

Puji Tuhan....!!!

Di sinilah, di 212 lah aku menyaksikan dengan mata kepala ku sendiri. Bahwa merekalah orang-orang yang mempunyai hati terpilih. Yang mempunyai pesan moral yang tiada ternilai. Untuk menyikapi rasa persaudaraan sesama anak bangsa.

Siem Mei hwa.
( Susi Meliana waty ). 


Itulah sekilas tentang momentum 212 yang kini menjadi agenda tahunan umat islam di indonesia. Agenda ini diadakan setiap tanggal 2 Desember yang kini juga di meriahkan oleh tokoh-tokoh lintas agama. Sebetulnya banyak cerita haru yang di bagikan para peserta reuni 212 namun mungkin dilain kesempatan akan kita ulas lagi.

Thursday, December 06, 2018

Wartawan Senior Mantan Wasekjen PWI Tanggapi Polemik Jurnalistik Saat Ini

Matinya nurani media masa di indonesia
Reuni 212 Jakarta Indonesia


Terkait Acara reuni 212 yang dilaksanakan 2 desember lalu, sontak membuat publik bertanya-tanya. Publik menyayangkan kenapa acara sebesar itu yang di hadiri belasan juta umat manusia dari berbagai latar belakang suku, ras, agama tidak diliput oleh media mainstream nasional. 


Saat acara berlangsung hanya TVone yang ikut menyiarkan live hingga acara selesai. Bahkan media cetakpun tak ada yang memberitakan. Sontak fenomena ini menjadi pertanyaan besar dalam pikiran masyarakat. Kemana media nasional ? Sementara media luar berlomba-lomba memberitakan. 

Banyak dari para mantan jurnalis senior menyayangkan sikap media saat ini yang cendrung bersifat partisan. Berikut ada tulisan menarik dari seorang mantan wartawan senior M. Nigara.

MALU RASANYA


Oleh M. Nigara, Wartawan Senior, Mantan Wasekjen PWI

LAMA saya pertimbangkan untuk menuliskan hal ini. Ada rasa yang berbeda dari biasanya, maklum banyak di antara mereka adalah orang-orang yang saya kenal. Tetapi rasa malu yang membuncah membuat saya akhirnya menuliskan juga otokritik ini.

Ya, sebagai orang yang pernah bergelut sebagai wartawan, sempat menjadi Pemred, dan Pemimpin Umum di beberapa media cetak nasional, sungguh saya malu melihat apa yang saat ini dilakukan oleh mereka yang masih aktif di media. Sebagai sesama wartawan, tentu basis keilmuan kita sama. Bagi kita, kebenaran wajib dilaporkan. Bagi kita, berpihak dalam melaporkan fakta (apalagi jika dilakukan karena ada imbalan materi) haram hukumnya. Bagi kita, kebebasan dan netralitas wajib dijaga dan harus terjaga. Untuk itu, kita dilindungi oleh hukum dan dan undang-undang.

Tapi, belakangan ini, tepatnya sekitar dua tahun terakhir, ada yang aneh menyeruak di dunia pers kita.  Netralitas seperti tersapu gelombang. Keberpihakan menjadi terang-benderang. Fakta di depan mata, bukan lagi berita. Mereka telah mengubah jatidiri kewartawanan menjadi pedagang. Mereka telah mengkhianati kejujuran.

Mayoritas media _mainstream_ tidak lagi berada di orbit jurnalisme yang sesungguhnya. Mereka ramai-ramai telah -maaf- menjual diri mereka dengan sangat murah. Sungguh memalukan. Mereka telah berubah menjadi WTS (Wartawan Tanpa Suratkabar) yang hidupnya hanya mengejar amplop.

Hersubeno Arief dan Ilham Bintang adalah dua sahabat saya yang telah lebih dulu menorehkan opininya. Bunuh  diri pers, kata Hersu, begitu biasa saya sapa, menuliskan pandangannya. Keras dan tegas. Begitu juga Ilham, menuliskan rakyat telah menemukan cara sendiri untuk menyampaikan berita. "Rakyat telah mencabut media mainstream dari sanubarinya!"

Tak terbayangkan, ada jutaan manusia (saya sengaja tidak menulis umat islam dan umat-umat agama lainnya) berkumpul bersama di satu tempat (saya juga sengaja tidak menuliskan Monas), sangat damai, tertib, dan mampu membersihkan tempat dengan baik, tidak jadi berita. Sungguh aneh, fakta besar dilewati begitu saja. Mereka mengabaikan seolah-olah mata mereka buta dan kuping mereka tuli. 

Kawan, sungguh malu rasanya engkau berbuat seperti itu. Sebagai sesama wartawan, aku ingin bertanya di mana nuranimu? Di mana engkau sematkan kejujuranmu? Kawan, engkau boleh memilih siapapun untuk menjadi apa pun, tetapi, ketika engkau menggunakan jubah kewartawanan, engkau wajib menyuarakan kebenaran. Engkau bukan dirimu, tapi englau adalah garda terdepan dari kebenaran.

Pertanyaannya: "Tidakkah engkau melihat jutaan manusia berkumpul di satu tempat Ahad (2/12/18)?" Lalu, kemana engkau berada hingga engkau abaikan semua itu?

Sekali lagi, malu rasanya melihat semua itu. Pertanyaannya, malukah engkau dengan prilakumu?

Beruntung masih ada tvone yang secara gagah meliput detik demi detik seluruh peristiwa itu. Ya, seperti slogannya: tvone memang beda!

Sekali lagi, semoga ada rasa malu di hatimu seperti malu yang menyeruak di dadaku. Semoga Allah SWT mengampuni kita semua. Dan semoga NKRI juga dalam lindunganNya, aamiin.

Friday, November 23, 2018

Contoh Puisi Untuk Guru

Contoh puisi untuk guru
Contoh Puisi Untuk Guru

Diksi Untuk Guruku


Guruku.........!

Jujur....! 
Terkadang celotehmu ku anggap terasa membosankan. 
Perihal disiplin, tertib, dan kesopanan.
 
Demi kami, Aku dan juga mereka.
Dengan harapan kelak kami mengerti. Namun sering kali ku lupa akan makna itu.


Guruku.......! 

Mungkin aku tak melihat Kala fajar menyising.

Lengan bajumu turut Engkau singsing.

Segala milik yang menyamankan rela engkau sisihkan.

Kala mentari beranjak senja.

Matamu redup seketika.

Namun semua nama selalu Engkau bawa. 
Dalam doa dan harapan. 
Untuk memperjuangkan kami murid-muridmu.

Guruku………..! 

Tak banyak yang akan ku katakan.

Karena tanpa katapun jasamu nyata.

Mengalir di seluruh jiwa mencerahkan.
Engkaulah pelita yang menerangi ku. 
Hingga aku sadar akan luasnya Dunia ini.

Guruku......! 

Tak ada yang dapat ku berikan. 
Karena tanpa pemberianpun jasamu tetap ada dan nyata. 
Engkaupun tak pernah meminta. 
Hanya keberhasilan kami yang kau harapkan.
Terimakasi atas kesabaranmu berlapis peluh.
Bermodal hati juga pengetahuan.

Berbagi kepadaku dan kepadanya.

Juga mereka.

Guruku......! 

Maafkan aku muridmu ini yang terkadang telah Mengecewakanmu. 
Terima kasih guruku.
Engkau Membuka mata hatiku.

Selangkah laju kutuju.

Kan kusambut disetiap hariku.

Terima kasih.

Kau tak akan kulupakan.

Jasamu akan abadi sepanjang hayat hidupku.

Diksi ku memang tak seberapa 

Namun Do'a ku untukmu.... Guruku....!

Monday, November 19, 2018

Propaganda Politik Dan Dendam Sejarah Terhadap Peradaban Islam

Kebencian yahudi dan negara barat pada islam
Propaganda Islam Phobia

Seringkali kita mendengar istilah propaganda namun mungkin sedikit dari kita yang memahami betul apa itu propaganda. Jika kita perhatikan istilah propaganda menurut pandangan awam lebih kepada sebuah istilah yang bermaksut buruk atau jahat. Bahasa gaulnya ngompor-ngomporin orang supaya mengikuti rasa kebencian kita terhadap kelompok lain.


Untuk memperjelas makna propaganda mari kita kupas lebih dalam lagi. Pengertian Propaganda secara harfiah adalah suatu rangkaian pesan yang bertujuan untuk mepengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang. Istilah Propaganda berasal dari bahasa Latin modern (propagare) yang berarti mengembangkan atau memekarkan.

Propaganda disampaikan tidak secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk mepengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya tujuanya meyakinkan orang sipendengar agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu yang ingin di sebarluaskan.

Jika kita hubungkan dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan propaganda biasanya sering digunakan dalam ajang politik. Mempengaruhi masa untuk mendapatkan dukungan terbanyak dalam politik. Misalnya dalam kontes politik yaitu pada masa-masa kampanye. 

Nah sekarang mari kita kupas apa sih perbedaan kampanye biasa dengan propaganda, karena secara harfiah pengertianya hampir sama. 

Perbedaan Kampanye biasa dan Propaganda Pada dasarnya tak ada yang berbeda. Arti antara kampanye dan propaganda nyaris sama. Kalau pun, kemudian keduanya tampak berbeda, itu karena pendekatan dan metoda yang dipakainya. Kampanye kerap dinilai lebih bersifat persuasif karena disertai bujukan dan iming-iming. 

Sementara propaganda, sekalipun dasarnya sangat persuasif, tapi kerap disertai tekanan berupa penonjolan dari dampak buruk yang bisa terjadi jika massa tak bertindak seperti apa yang dipropagandakan. 

Menurut Harold D. Lasswell Propaganda adalah penggunaan simbol-simbol untuk mempengaruhi perilaku atau manipulasi perasaan manusia. Qualter Propaganda adalah suatu upaya secara sengaja oleh bebepara individu atau kelompok untuk membentuk, mengontrol, atau mengubah sikap kelompok lain dengan menggunakan instrumen komunikasi demi mencapai tujuan dan ambisi politik kekuasaan.

Perbedaan Propaganda Dengan Kampanye Biasa  


  1. Propaganda tidak ada waktu.
  2. Propaganda menginginkan perubahan cepat.
  3. Kampanye tidak dibatasi waktu. 
  4. Kampanye memiliki pola-pola tertentu. 

Propaganda Yang Abadi Hingga Kini Di Dunia


Propaganda yang paling menghebohkan dunia hingga saat ini dan bahkan juga mulai menjangkit masyarakat kita adalah Propaganda Islam Phobia. Bahkan mirisnya phobia ini juga menjangkit orang-orang islam itu sendiri. Betapa bodohnya kita termakan propaganda barat. 

Propaganda terhadap islam terbilang sukses dilakukan oleh bangsa Barat. Bisa kita saksikan saat ini begitu meluasnya di negara-negara barat islam phobia bahkan saat ini di negara kita yang penduduknya Mayoritas islam juga sedang terjangkit wabah islam phobia. 

Propaganda terhadap islam sangat erat kaitan dengan sejarah hubungan "Islam-Barat", Peradaban Barat memang tidak dapat dipisahkan dengan unsur Yahudi-Kristen (Judeo-Christian), karena keduanya merupakan unsur-unsur penting yang membentuk peradaban Barat saat ini. 

Banyak peristiwa sejarah yang masih menjadi memori kelabu dalam memori kolektif Barat. Jika peristiwa itu diungkit atau dibangkitkan, mereka dengan mudah akan mengingatkan dan membangkitkan kebencian, bahkan kemarahan terhadap Islam. 

Perasaan anti-Islam dengan mudah tersebar luas di kalangan masyarakat Barat. Misalnya, Crusade atau Perang Salib. Para politisi yang ingin meraih dukungan masyarakat Kristen sangat mungkin melakukan aksi penggalangan emosi masyarakat Barat dengan mengeksploitasi adanya ancaman Islam. Misalnya, Peristiwa 11 September. Padahal peristiwa itu hanyalah sebuah konspirasi dan ini sudah banyak dibuktikan oleh para pakar di dunia. 


Jejak sejarah yang menjadi pukulan yang sangat berat yang diterima Barat dari kaum Muslimin adalah kekalahan mereka dalam Perang Salib (Crusade)

Meskipun mereka telah menghimpun segala kekuatan yang dimilikinya dan berhasil menduduki Jerusalem selama sekitar 88 tahun (1099-1187), pasukan Salib akhirnya hengkang dari dunia Islam, setelah mengalami kekalahan menghadapi kekuatan pasukan kaum Muslimin di bawah pimpinan Shalahudin al-Ayyubi. 

Memori kolektif inilah yang masih terus terpelihara di Barat. Karen Amstrong menggambarkan fenomena Perang Salib dan pengaruhnya terhadap masyarakat Barat dalam bukunya Holy War: The Crusades and Their Impact on Today's World , (London: McMillan London Limited, 1991).

Aspek-aspek traumatis historis kalangan masyarakat Kristen Barat terhadap Islam itulah yang kemudian dieksploitasi dengan baik dan cerdik oleh ilmuwan neo-konservatif, seperti Huntington dan Bernard Lewis, untuk melegitimasi kepentingan politik negara-negara Barat, khususnya AS. 

Pada abad ke-21 ini pun pengaruh Crusade masih bisa disimak. Saat Presiden George W. Bush menggelorakan Perang Salib melawan terorisme, pasca-peristiwa 11 September 2001, sejatinya Bush tidak sedang terpeleset lidah. Sebagai seorang Kristen yang 'terlahir kembali' dan menjadikan Jesus sebagai filosof idamannya, Bush sedang mengungkap alam bawah sadarnya, bahwa semangat Crusade kini diperlukan untuk menggalang kekuatan Barat. 

Barat dengan serangkaian idiologinya tidak lagi legitimate untuk eksis. Menurut Huntington, semangat Crusade dibutuhkan untuk self-definition dan membangun motivasi, karna menurutnya manusia perlu rival dan musuh. (Samuel P. Huntington, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, hlm. 130).

Tak hanya itu propaganda terhadap negara islam di timur tengah juga masih di lancarkan bangsa barat. Hal ini terjadi juga dilatar belakangi karena mereka ingin menguasai ladang minyak yang tersebar luas di timur tengah dimana negara-negara tersebut juga merupakan pusat peradaban islam dunia. 

Maka demi ambisi imprealis yang dilatar belakangi dendam sejarah untuk menghancurkan islam dan menguasai ladang minyak disana bangsa barat melancarkan propaganda memerangi teroris.

Saat ini apa yang dilakukan oleh bangsa barat dan sekutunya di berbagai belahan bumi dapat dilihat dalam perspektif upaya Mereka untuk memelihara hegemoni imperialnya di berbagai belahan bumi, termasuk kebijakan "antiterorismenya". 


Sejak tahun 2001 mereka semakin intensif menggalang kekuatan internasional, menghadapi dan menggebuk musuh-musuh yang dapat mengganggu Hegemoni Imperialnya. Sebagaimana dinasihatkan Lewis dan Huntington, hanya peradaban Islam yang dilihat sebagai potensi ancaman serius bagi peradaban Barat itu sendiri.

Jadi tidak mengherankan jika negara kita yang kaya sumberdaya alam serta menjadi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Juga menjadi incaran hegemoni imperial dan dendam sejarah berkarat bagi mereka. Maka dari itu di hembuskanlah propaganda islam phobia ke negeri ini. Namun mirisnya banyak juga orang islam indonesia yang  ikut termakan propaganda semacam ini. 

Sunday, November 18, 2018

Pidato Lengkap Presiden Soekarno 1 Juni 1945 "Rumusan Pancasila" Bagian Penutup

Hasil sidang BPUPKI
Pidato Bung Karno 1 Juni Bagian Penutup

Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 tentang Pancasila (VII-habis)


Prinsip Kelima 


Apakah prinsip ke-5 ? 

Saya telah mengemukakan 4 prinsip:
1. Kebangsaan Indonesia.
2. Internasionalisme, – atau peri-kemanusiaan.
3. Mufakat, – atau demukrasi.
4. Kesejahteraan sosial.
Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.


Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad s.a.w., orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa.

Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme-agama”. Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan!


Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.
Nabi Muhammad s.a.w. telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid, tentang menghormati agama-agama lain. Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid. Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip kelima dari pada Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!

Disinilah, dalam pangkuan azas yang kelima inilah, saudara- saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Dan Negara kita akan bertuhan pula!


Ingatlah, prinsip ketiga, permufakatan, perwakilan, disitulah tempatnya kita mempropagandakan idee kita masing-masing dengan cara yang berkebudayaan!

Pancasila


“Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat disini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai Panca Inderia. Apa lagi yang lima bilangannya?

(Seorang yang hadir: Pendawa lima).
Pendawapun lima orangya. Sekarang banyaknya prinsip; kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima pula bilangannya.

Namanya bukan Panca Dharma, tetapi – saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa namanya ialah Panca Sila. Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi. bilangan lima itu?

Saya boleh peras, sehingga tinggal 3 saja. Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah “perasan” yang tiga itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia Merdeka, Weltanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme, kebangsaan dan peri-kemanusiaan, saya peras menjadi satu: itulah yang dahulu saya namakan socio-nationalisme.

Dan demokrasi yang bukan demokrasi barat, tetapi politiek- economische demokratie, yaitu politieke demokrasi dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan, saya peraskan pula menjadi satu: Inilah yang dulu saya namakan socio-democratie. Tinggal lagi ketuhanan yang menghormati satu sama lain. Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: socio-nationalisme, socio-demokratie, dan ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang tiga ini.

Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada trisila ini, dan minta satu, satu dasar saja? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu?

Gotong Royong


Sebagai tadi telah saya katakan: kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus men-dukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Van Eck buat indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, – semua buat semua !
Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!

“Gotong Royong” adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe.

Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama ! Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! 

Itulah Gotong Royong!

Prinsip Gotong Royong diatara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.

Pancasila menjadi Trisila, Trisila menjadi Eka Sila. Tetapi terserah kepada tuan-tuan, mana yang Tuan-tuan pilih: trisila, ekasila ataukah pancasila? Isinya telah saya katakan kepada saudara-saudara semuanya. Prinsip-prinsip seperti yang saya usulkan kepada saudara-saudara ini, adalah prinsip untuk Indonesia Merdeka yang abadi.

Puluhan tahun dadaku telah menggelora dengan prinsip-prinsip itu. Tetapi jangan lupa, kita hidup didalam masa peperangan, saudara- saudara. Di dalam masa peperangan itulah kita mendirikan negara Indonesia, – di dalam gunturnya peperangan!

Bahkan saya mengucap syukur alhamdulillah kepada Allah Subhanahu wata’ala, bahwa kita mendirikan negara Indonesia bukan di dalam sinarnya bulan purnama, tetapi di bawah palu godam peperangan dan di dalam api peperangan. Timbullah Indonesia Merdeka, Indonesia yang gemblengan, Indonesia Merdeka yang digembleng dalam api peperangan, dan Indonesia Merdeka yang demikian itu adalah negara Indonesia yang kuat, bukan negara Indonesia yang lambat laun menjadi bubur.

Berhubung dengan itu, sebagai yang diusulkan oleh beberapa pembicara-pembicara tadi, barangkali perlu diadakan noodmaatregel, peraturan bersifat sementara. Tetapi dasarnya, isinya Indonesia Merdeka yang kekal abadi menurut pendapat saya, haruslah Panca Sila.

Sebagai dikatakan tadi, saudara-saudara, itulah harus Weltanschauung kita. Entah saudara- saudara mufakatinya atau tidak, tetapi saya berjoang sejak tahun 1918 sampai 1945 sekarang ini untuk Weltanschauung itu. Untuk membentuk nasionalistis Indonesia, untuk kebangsaan Indonesia; untuk kebangsaan Indonesia yang hidup di dalam peri-kemanusiaan; untuk permufakatan; untuk sociale rechtvaardigheid; untuk ke-Tuhananan.
Panca Sila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh-puluh tahun. Tetapi, saudara-saudara, diterima atau tidak, terserah saudara-saudara. Tetapi saya sendiri mengerti seinsyaf- insyafnya, bahwa tidak satu Weltaschauung dapat menjelma dengan sendirinya, menjadi realiteit dengan sendirinya. Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan, menjadi realiteit, jika tidak dengan perjoangan!

Janganpun Weltanschauung yang diadakan oleh manusia, jangan pun yang diadakan Hitler, oleh Stalin, oleh Lenin, oleh Sun Yat Sen! “De Mensch”, — manusia! –, harus perjoangkan itu. Zonder perjoangan itu tidaklah ia akan menjadi realiteit! Leninisme tidak bisa menjadi realiteit zonder perjoangan seluruh rakyat Rusia, San Min Chu I tidak dapat menjadi kenyataan zonder perjoangan bangsa Tionghoa, saudara-saudara! Tidak! Bahkan saya berkata lebih lagi dari itu: zonder perjoangan manusia, tidak ada satu hal agama, tidak ada satu cita-cita agama, yang dapat menjadi realiteit.

Janganpun buatan manusia, sedangkan perintah Tuhan yang tertulis di dalam kitab Qur’an, zwart op wit (tertulis di atas kertas), tidak dapat menjelma menjadi realiteit zonder perjoangan manusia yang dinamakan ummat Islam. Begitu pula perkataan-perkataan yang tertulis didalam kitab Injil, cita-cita yang termasuk di dalamnya tidak dapat menjelma zonder perjoangan ummat Kristen.

Maka dari itu, jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Panca Sila yang saya usulkan itu, menjadi satu realiteit, yakni jikalau kita ingin hidup menjadi satu bangsa, satu nationali- teit yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup diatas dasar permusyawaratan, ingin hidup sempurna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, dengan ke-Tuhanan yang luas dan sempurna, –janganlah lupa akan syarat untuk menyeleng-garakannya, ialah perjoangan, perjoangan, dan sekali lagi pejoangan. Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjoangan kita telah berakhir.

Tidak! Bahkan saya berkata: Di-dalam Indonesia Merdeka itu perjoangan kita harus berjalan t e r u s, hanya lain sifatnya dengan perjoangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita, bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu padu, berjoang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Panca Sila. Dan terutama di dalam zaman peperangan ini, yakinlah, insyaflah, tanamkanlah dalam kalbu saudara-saudara, bawa Indonesia Merdeka tidak dapat datang jika bangsa Indonesia tidak mengambil risiko, — tidak berani terjun menyelami mutiara di dalam samudera yang sedalam-dalamnya.

Jikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak menekad-mati-matian untuk mencapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan menjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya, sampai keakhir jaman!
Kemerdekaan hanya- lah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa, yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad “Merdeka, — merdeka atau mati”! (krj)

Sumber dikutip dari Koran KR edisi Juni 1964